“Doa sejati dimulai, ketika kesombongan berakhir. Ketika kita mengizinkan Allah jadi Allah, dan membiarkan Dia mencurahkan rahmat-Nya ke dalam hati kita.”
Yesus menyingkapkan sikap hati yang berkenan kepada Allah.
Dua orang datang ke Bait Allah untuk berdoa; yang satu meninggikan diri, yang lain merendahkan hati. Orang Farisi memuji dirinya sendiri, sementara pemungut cukai hanya bisa menunduk dan memohon belas kasih.
Allah mengingatkan kami, seperti dalam Kitab Putra Sirakh, bahwa Ia tidak memihak siapa pun; Ia mendengarkan doa orang kecil dan membela mereka yang tertindas. Doa orang rendah hati menembus awan. Ia tidak dapat disuap oleh persembahan, tapi Ia berkenan kepada hati yang tulus dan yang hancur.
Pemazmur mengajarkan kami: “Tuhan dekat kepada orang yang patah hati, dan menyelamatkan orang yang remuk jiwanya.” Allah tidak menjauh dari kelemahan kami. Tapi justru datang mendekat, mengubah air mata kami jadi tari-tarian.
Seperti Santo Paulus, kami pun ingin berdoa dengan penuh keyakinan. Ketika ia sendirian, Engkau tidak meninggalkannya.
Engkau berdiri di sisinya dan memberi kekuatan.
Ajarlah kami percaya seperti dia,
bahwa Engkau akan menyelamatkan kami dari setiap kejahatan dan menuntun kami sampai ke Kerajaan Surga-Mu.
Ya, Allah, jauhkan kami dari kesombongan rohani, dan tumbuhkan dalam diri kami kerendahan hati yang sejati. Ketika kami berdoa, semoga yang kami bawa bukan prestasi, melainkan pengakuan akan kebutuhan kami akan kasih-Mu. Biarlah doa kami menjadi seperti seruan pemungut cukai itu: “Ya Allah, kasihanilah aku, orang berdosa ini.”_
Ketika kami sudah merendahkan diri di hadapan-Mu, angkatlah kami dengan kasih-Mu.
Biarlah Roh Yesus berdoa dalam diri kami, mengubah hati kami agar makin menyerupai hati-Nya sendiri.
“Darah dan Air yang memancar dari hati Yesus sebagai sumber kerahiman bagi kami, Engkaulah Andalanku. Amin.”
…
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

