1.
Jedah di tepi senja hari
mengantar cahaya mentari pergi
Kutitipkan tanyaku pada nafas yang lelah
Berapa banyak jejak langkah
yang telah terpatri di bawah terik mentari
Ada berapa ayat tentang iman pribadi
yang terbang bersama debu ditiup angin
Ada berapa bait cerita direkam Ibu bumi
Ada berapa kata amal yang dipotret angkasa
Adakah syair senyum kepada sesama saudara
Apakah kita butuh sepotong terima kasih dan doa syukur
Haruskah aku berterima kasih dan bersyukur
Perlukah aku memiliki dan merawat imanku
Apa sebenarnya iman bagi jiwa raga pribadiku
Mengapa mengikuti ritual dan ibadah
karena takut tradisi atau atas waras imanku?
2.
Gulita malam datang memeluk ragaku
perlahan lerai tubuh yang getir perih
dibelenggu letih lelah perkelahian emosi
dicengkram pergulatan pikiran meraih aneka kebutuhan
Karena hati nurani galau menagih
Karena sanubari jiwa lapar dahaga oleh lara derita
Larut gulita malam perlahan mengurai kesadaranku
Bahwa pribadiku tak mampu sendiri
mengandalkan kehendak nalar dan kobar selera
Bahwa di hadapan sesama dan alam ini
aku bukan maha perkasa tetapi pengemis papa
Aku adalah misteri dan fakta
dalam kreasi rencana Sang Pencipta
Iman yang menolong akal budi
karena indera tak mampu menyibak misteri
3.
Malam membawa kesadaran terbang meraih kerlip bintang-bintang
Angin mengajari telapak sanubari menaiki tangga angkasa
agar bisa memeluk pesona purnama
Cahaya mentari mengingatkan pribadi memahami
Pucuk pohon yang tinggi menjulang
karena akarnya dalam menukik ke jantung bumi
Dahan pohon yang melebar hijau rindang
karena membentang akar yang menyusup di dalam tanah
Hujan panas yang menerpa siang malam
adalah sahabat yang menguji keyakinan
Angin badai dan musim berganti
adalah guru bagi iman dan kehidupan
Agar pohon kuat dan bisa hasilkan manfaat
Entah rindang hijau sejuk segar
Entah bunga indah dan buah ranum bergizi
Mungkin guru bagi ziarah kelana manusia
4.
Fajar pagi merekah membuka mataku
setelah semalam diajak mengembara
Kesadaran baru perlahan mengubah pribadi
untuk makin belajar mengenal diri
di antara sesama saudara dan alam semesta
Selera dan anganku memang tak terbatas
Rasa ingin tahu juga seluas angkasa dan sedalam samudra
Namun,
kemampuan pikiranku ternyata ada batasnya
untuk mengurai fakta dan melerai misteri
Aku perlu beriman dan berpasrah
kembali kepada Sang Maha Pencipta
Aku harus percaya pada Sang Maha Fakta sekaligus Sang Maha Misteri
karena sungguh bagian hakiki diri pribadi
sekaligus jauh melampaui kemampuanku mengerti
Mungkin aku mulai dengan berterima kasih
dan belajar selalu sujud bersyukur

