Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kata-kata yang keluar dari mulut manusia akan mudah tergelincir, karena bukankah lidah itu memang tidak bertulang?”
(Didaktika Hidup Sejati)
Facta non Verba
Masyarakat yang berbahasa Latin memiliki sebuah idiom, “facta non verba,” yang bermakna yang utama adalah bukti dan bukan sekadar ucapan. Hal ini sangat penting bagi umat manusia di seluruh jagad hidup ini. Artinya lewat idiom ini, manusia justru sangat merindukan hadirnya sebuah ‘fakta hidup dan tidak sekadar ucapan kosong’.
Bukankah dari balik adagium bermakna ini, justru mau mendeskripsikan, bahwa sesuai pengalaman, di mana pun di jagad hidup ini, memang sangat sulit untuk dapat dipercaya kebenaran dari tuturan manusia.
Verba Movent, Exempla Trahunt
“Ucapan manusia itu memang mampu menggerakkan, namun ternyata suri teladan lebih memikat hati,” demikian isi serta pesan yang sangat transparan bagi kehidupan manusia. Hal ini sudah terbukti, karena ternyata, betapa sering tidak sejalan, antara kata-kata yang diucapkan dengan tindakan konkret (tidak konsisten).
Sang Ibu yang Risau
Suatu hari, seorang Ibu membawa Putrinya kepada Mahama Gandhi agar sang arifin itu membantu meyakinkan putrinya yang doyan memakan jajanan yang serba manis, agar ia segera menghentikan kebiasaan buruknya itu.
“Dapatkan Anda membujuk putri saya, agar ia menghentikan kebiasaanya itu?” Namun Mahatma Gandhi tampak diam seribu bahasa.
Sesaat kemudian ia menyahut, “Baik IBu, bawalah Putrimu itu, setelah tiga Minggu.”
Ibu itu pergi. Detelah tiga Minggu, ia datang kembali bersama putrinya untuk berjumpa dengan Mahatma Gandhi.
Fengan sangat tenang Mahatma Gandhi berbicara kepada Putri itu. Ia berusaha untuk meyakinkannya, bahwa sungguh berbahaya bagi kesehatan, jika dia selalu mengonsumsi jajanan manis.
Sebelum beranjak pergi, Ibu itu sempat bertanya kepada Mahatma Gandhi, “Mengapa saat itu Tuan meminta agar saya menunda tiga minggu berikutnya baru datang lagi?”
“Baik,” sahut Mahatma Gandhi, “Karena saya juga sangat doyan memakan makanan manis.”
Donald Nichol
(1500 Cerita Bermakna)
Sikap Orang Bijaksana
“Baik Bu, mohon tiga minggu berikut, baru Ibu datang lagi,” ini adalah sebuah cara atau sikap sadar diri dari orang bijaksana. Artinya, dia baru akan membantu mempersuasi putri itu, justru setelah dia sendiri sungguh-sungguh sadar akan bahaya, jika terus mengonsumsi jajanan yang serba manis.
Dia baru mau meyakinkan putri itu, justru setelah dia sendiri tidak mengonsumsi lagi jajanan manis. Hal ini dapat bermakna, bahwa ucapannya itu memang sejalan dengan tindakannya. Itulah yang dimaksudkan dengan “tindakan nyata atau suri teladan lebih memikat.”
Refleksi
Lewat peristiwa ini, kepada kita diamanatkan, bahwa pengalaman hidup manusia telah membuktikan, bahwa sungguh, betapa sulit bagi seorang manusia untuk bertindak sebagai peneladan sejati.
Dalam konteks ini, juga mau mendeskripsikan, bahwa sungguh betapa sulitnya manusia untuk memiliki sikap berintegritas (kesesuaian antara kata dan tindakan).
Kediri, 26 Oktober 2025

