Alkisah, Budi – Hendra, dua saudara kandung di Cilengsi, di Paroki yang sama, sudah 20 tahun ‘neng-nengan’, tidak bicara. Gara-gara rumah orangtua, yang ditinggali Budi, yang merawat orangtua sampai meninggal. Hendra, si sulung, merasa mempunyai hak juga. “Dijual saja, diparo,” usulnya.
Tak ada kata sepakat dan tidak ada yang mau mengalah. Sudah 20 tahun lamanya. Mereka ke Gereja selalu di waktu berbeda agar tidak bertemu.
“Aku tidak mau tahu. Selama orangtua kita sakit, apa pernah dia cawe-cawe,” kata Budi pada istrinya.
“Biar sajalah. Toh hidup kita baik-baik saja tanpa rumah itu,” kata Hendra pada istri dan keluarganya.
Banyak teman, juga Romo parokinya sudah berusaha mendamaikan.Tapi keduanya tidak mendengar.
Sampai suatu hari, Pak Hendra stroke. Ia dilarikan ke RS dalam kondisi kritis. Dokter bilang kemungkinan selamat sangat kecil.
Istrinya menilpon Pak Budi. “Dik, Kakangmu kritis di RS. Mbok teko.”
Pak Budi ragu. “Dua puluh tahun tidak bicara. Apa gunanya aku datang?”
“Pak, mungkin ini kesempatan terakhir untuk berdamai”
Pak Budi akhirnya datang ke RS. Ia melihat Kakaknya terbaring lemah, tidak sadarkan diri. Air matanya mengalir.
“Kang, apuranen aku. Dua puluh tahun kita buang waktu untuk hal yang bodoh ini. Aku terlalu,” tangisnya sambil memegang tangan kakaknya.
Pak Hendra tidak merespons. Ia koma.
Dua hari kemudian, ia meninggal tanpa sempat berdamai dengan adiknya.
Di pemakaman, Budi roboh di depan peti jenazah. “Kang, apuranen aku, yo… ” tangisnya.
Masihkah Hendra sempat memaafkan Adiknya?
Jlitheng

