“Tidak masalah saya dianggap upnormal. Karena mereka itu berasal dari dunia.” -Mas Redjo
…
Jadi maaf, sejahat dan seburuk apa pun perlakuan orang terhadap saya tidak layak dimasukkan ke dalam hati untuk ditanggapi dan direspon negatif. Lebih bijak mereka itu dimaafkan, didoakan, dan dilupakan.
Belajar untuk menjalani hidup ikhlas itu yang membuat saya diberi predikat: upnormal oleh banyak orang.
Saya tersinggung, terdholimi, dan sakit hati? O, sama sekali: tidak!
Saya tidak tersingung atau sakit hati. Saya belajar menahan diri, sabar, dan memahami mereka yang
bisa jadi salah berucap, keseleo lidah, atau sedang ngelindur.
Saya tidak mau sensitif, apalagi emosi. Lebih baik mendengar lewat telinga kiri, lalu ke luar lewat telinga kanan. Senantiasa berpikir jernih agar hati ini senantiasa adem.
Mengendalikan diri itu harus dilatih terus menerus agar kita sungguh jadi pribadi yang rendah hati, bukan upnormal seperti yang dituduhkan oleh mereka yang sombong dan picik.
Sejatinya, ketika hati tersinggung dan nyaris emosi, saya segera menarik nafas menenangkan diri. Saya membayangkan akibatnya. Jika yang dimarahi itu adalah orang yang dikasihi, dan dampak buruk yang ditimbulkannya. Marah juga membuat imun tubuh melemah, dan itu merugikan diri sendiri.
Saya belajar untuk jadi pribadi yang sabar-sesabarnya, sehingga saya enggan, bahkan tidak membalas perlakuan buruk mereka. Saya tidak malu dibilang lemah, lembek, atau pengecut.
Saya berdiam diri, karena berjuang untuk menghidupi ‘Doa Bapa Kami’ agar mendarah daging. Sehingga saya jadi kuat, sabar, dan tabah.
Jika ingin kesalahan dan dosa kita diampuni Allah, hendaknya terlebih dulu mengampuni dan mengasihi mereka yang bersalah.
Dengan menghidupi hukum tabur-tuai, saya memohon rahmat Allah agar jadi pribadi yang bertanggung jawab, mandiri, dan hidup berkenan bagi-Nya.
Semangat mengasihi, karena kita berasal dari Allah. Upnormal, karena dunia tidak melihat karya-karya-Nya!
…
Mas Redjo

