Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Sudah membanjir di pasar modern aneka makanan kemasan dari pabrik, baik yang siap dikonsumsi maupun yang harus diolah lagi. Ada makanan dan minuman untuk kebutuhan harian semua umur, ada juga khusus untuk jajanan anak serta balita.
Dengan fakta tersebut, pola konsumsi di komunitas tradisi adat budaya juga terpengaruh dan berubah. Banyak generasi muda lebih memilih makanan kemasan dari pasar modern, ketimbang mengolah makanan lokal. Misalnya mie instan, minuman kaleng dan saset, juga susu untuk dewasa, anak dan balita. Kopi kemasan berbagai merek untuk dewasa dan remaja. Beras dan jagung pun dari pasar modern, semakin sedikit dari hasil ladang atau sawah yang dikerjakan sendiri. Hal ini ada hubungannya juga dengan berubahnya banyak lahan untuk tanaman pangan menjadi lahan untuk tanaman komoditi.
Ternyata, perubahan pola konsumsi makanan lokal banyak berubah karena faktor internal di komunitas adat budaya dan pengaruh faktor perkembangan modern dari luar komunitas. Kemudahan informasi dan transportasi juga ikut mempengaruhi pola konsumsi, cara pandang dan pilihan serta selera.
Ada beberapa makanan lokal masih dipertahankan karena berhubungan dengan ritual adat tradisi. Misalnya kue beras yang dimasak di bambu, dan beberapa menu lainnya. Jadi, daya tahan makanan lokal berkaitan dengan kebutuhan komunitas, manfaat, dan nilai yang melatarbelakangi kehadiran menu makanan lokal tersebut. Kondisinya berbeda-beda di setiap komunitas adat budaya.
Yang perlu dicatat agar diperhatikan adalah soal efek makanan kemasan instan bagi anak-anak dan balita. Sering kurang diperhatikan soal masa kadaluarsa produk, efek bahan pengawet dan ketergantungan anak dan balita pada jajanan makanan ringan itu.
Sering kali, anak-anak dan balita yang kebanyakan jajan makanan instan itu jadi kebiasaan, ketagihan, dan tidak mau makanan utama yang berguna bagi kesehatan dan tumbuh kembangnya. Umumnya, jika anak menangis, orangtua sering mengalah mengikuti selera dan keinginan anak.
Sesungguhnya, semua itu kembali kepada kesadaran dan kebijakan orangtua. Hal yang sama soal ketergantungan anak pada gadget, terpaksa dituruti dan diberi agar anak tidak menangis.
Inilah fakta zaman.
Bagaimana dengan sikap kita sebagai orangtua?

