“Jangan mendompleng untuk hidup mulia itu pada pasangan atau anak, tapi perolehlah hanya pada Yesus, Juru Selamat kita.” -Mas Redjo
…
Banyak orang berpikir, bahwa hidup mulia itu diperoleh pada jabatan, kekuasaan, atau harta dunia. Hal itu salah besar dan kesia-siaan. Yang tepat dan benar itu pada Tuhan agar kita percaya dan mengimani-Nya.
Tidak hanya sekadar menegaskan, tapi saya menghidupi iman Kristiani itu dengan keteladanan hidup yang bertanggung jawab agar anak jadi pribadi yang mandiri.
Kepada anak, saya mewariskan nasihat bijak Guru Agung untuk tidak bergantung pada keluarga atau orang lain, tapi sepenuhnya agar mengandalkan Tuhan. Karena anugerah-Nya luar biasa.
“Jangan jadi batu sandungan bagi orang lain.”
Intinya, kita harus menjaga sikap dan perbuatan agar tidak jadi batu sandungan dan menghalangi orang lain berbuat baik atau menjalankan keimanannya.
Faktanya, kita mudah menemukan orang yang intoleransi terhadap pemeluk agama yang minoritas.
Istri yang senang mendompleng jabatan suami; anak mendompleng fasilitas orangtua; dan suami yang memperkaya diri serta tamak untuk mencari kepuasan duniawi.
Tidak hanya itu, ada juga orangtua yang ingin mendompleng hidup mulia lewat anak-anaknya yang mapan dan mandiri.
Padahal, disadari atau tidak, ketika kita bergantung pada anak, orang lain, atau bahkan pada orangtua, kita mudah disodori kekecewaan, sakit hati, dan menderita. Ketika harapan itu tidak sesuai dengan kenyataan.
Sungguh bagai bumi dan langit, ketika kita mengandalkan Allah dengan sepenuh jiwa, percaya, dan mengimani-Nya. Kita tidak dikecewakan Allah, karena Ia setia.
Saya bangga jadi murid Tuhan Yesus!
…
Mas Redjo

