“Menjadi siap menyambut Kristus bukan soal ketakutan, melainkan kesetiaan penuh kasih yang terus berbuah dalam pelayanan.”
Dalam Injil, Yesus mengajak para murid-Nya untuk berjaga dan siap sedia, sebab Anak Manusia akan datang pada saat yang tak terduga. Ia berbicara tentang kebijaksanaan dan kewaspadaan rohani.
Dalam tradisi Gereja, kehati-hatian (prudence) disebut sebagai ‘ratu segala kebajikan’, karena darinyalah lahir kemampuan untuk bertindak benar pada waktu yang tepat.
Tanpa kebijaksanaan, keadilan itu jadi buta dan kehilangan maknanya. Seseorang bisa saja menuntut keadilan, tapi bila tidak peka terhadap situasi yang nyata, keadilannya itu tidak menghasilkan kebaikan apa pun.
Kebijaksanaan berbeda dari kehati-hatian. Kebijaksanaan memberi kita pandangan luas untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah. Tanpa kebijaksanaan, bahkan keputusan yang tampak benar pun bisa keliru, sempit, dan tidak menyentuh hati.
Maka, bila seseorang memiliki keduanya: bijaksana dan berhati-hati, ia akan mampu melihat gambaran besar dan sekaligus merasakan kebutuhan nyata di sekelilingnya.
Yesus menggambarkan hal ini melalui kisah hamba yang diberi tanggung jawab untuk mengurus seluruh rumah Tuannya. Bila hamba itu setia dan bijaksana, ia akan dipercayakan lebih besar lagi. Tapi jika ia jahat dan tidak setia, Tuannya akan datang secara tiba-tiba dan menghukumnya dengan berat.
Ya, Allah, tugas hamba dalam perumpamaan ini adalah memastikan, bahwa setiap rekan sepelayanan dipelihara dengan baik selama Tuannya pergi. Ia telah diberi segala kewenangan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga itu sungguh sebuah kehormatan besar!
Mungkin kami tidak berlaku jahat terhadap sesama, tapi kami bisa saja menunda atau mengabaikan dorongan Roh Kudus untuk berbuat kasih. Barangkali kami merasa tergugah untuk mengunjungi tetangga yang sakit, tapi menundanya, karena kesibukan, hingga akhirnya kami lupa. Atau kami berkata, “Ah, mungkin mereka sudah sembuh, tak perlu dikunjungi lagi.”
Allah, Engkau telah mempercayakan kepada kami berbagai karunia untuk melayani umat-Mu dengan bebas, sampai Yesus datang kembali. Putra-Mu telah melengkapi kami dengan segala yang kami butuhkan untuk mengasihi sesama sebagaimana Ia telah mengasihi kami.
Sungguh sebuah kehormatan untuk melaksanakan kehendak-Mu. Bila hamba dalam perumpamaan itu berhak mengurus sebuah rumah tangga, maka kehormatan kami jauh lebih besar, karena melalui kasih dan perhatian yang kami tunjukkan kepada seseorang, wajah belas kasih Putra-Mu dapat dikenali.
Bapa, Engkau telah mempercayakan kepada kami tanggung jawab yang besar. Ampuni kami, bila kami gagal setia terhadap kepercayaan itu. Kami berjanji untuk berjuang memantulkan kasih dan kerahiman-Mu kepada setiap orang yang Engkau percayakan kepada kami, sambil menantikan kedatangan-Mu kembali.
“Datanglah, ya, Tuhan Yesus dalam belas kasih-Mu, dapati kami berjaga, bekerja, dan siap menyambut-Mu.”
“Teguhkan kami agar tetap bertekun dalam iman, sampai Engkau membawa kami ke perjamuan-Mu yang kekal. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

