“Iman membuka hati kita kepada Allah: menghidupkan yang mati dan menepati janji-Nya dalam kerahiman.”
Yesus mengingatkan kami lewat perumpamaan tentang seorang kaya yang hendak membangun lumbung lebih besar untuk menyimpan hasilnya, namun malam itu juga hidupnya diambil darinya. Ia menimbun harta untuk dirinya sendiri, tapi miskin di hadapan-Nya. Betapa rapuh harta dunia ini, karena indah sesaat, lalu lenyap seperti kabut pagi.
Ajarlah kami, ya, Tuhan, memiliki iman seperti Abraham yang tidak bersandar pada miliknya, tapi percaya kepada-Mu, Allah yang sanggup menghidupkan yang telah mati. Semoga hati kami tidak melekat pada hal-hal yang fana, tapi pada janji-Mu yang kekal.
Ketika kami tergoda menilai hidup dari kelimpahan, ingatkanlah, bahwa segala yang kami miliki hanyalah anugerah, dan semuanya itu akan kembali kepada-Mu. Jangan biarkan kami berbicara hanya kepada diri sendiri seperti orang kaya itu, tapi tuntun kami untuk mendengarkan suara Roh Kudus di dalam hati: suara lembut yang mengajak kami pada kemurahan, syukur, dan kepercayaan.
Engkau telah menumbuhkan bagi kami seorang Penyelamat yang perkasa, yaitu Yesus Kristus, yang membebaskan kami dari ketakutan dan menuntun langkah kami di jalan damai. Dalam Dialah kami menerima warisan baru: bukan lumbung penuh gandum, melainkan samudra kerahiman yang tak terselami dalamnya.
Bapa, tolong kami untuk menghargai hidup baru dalam Kerajaan-Mu. Jadikan iman kekayaan kami yang sejati, kerahiman sukacita, dan Surga tujuan kami. Bila saatnya tiba, semoga kami Engkau dapati kaya akan hal-hal yang berkenan di hadapan-Mu: iman, pengharapan, dan kasih.
“Yesus, harta dan sandaran hidup kami, tuntunlah kami hidup dalam kerahimanMu. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

