Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sebuah kata lebih tajam daripada pedang bermata dua.”
(Seruan Kebijaksanaan)
Kata-kata Bersayap dan Bernyawa
- “Mulutmu adalah harimaumu.”
- “Kata-katamu lebih tajam daripada pedang bermata dua.”
- “Kata-katamu telah menyayati kalbuku.”
- “Maafkan, karena saya terseleo lidah.”
- “Hati-hati di saat Anda berkata-kata.”
Itulah sejumlah ‘statemen’ bahasa yang sangat termasyhur, merupakan budaya yang sangat bermakna dan bernyawa dalam bangsa kita.
Kata-kata yang Jadi Rumah Idaman
Setiap kata menyimpan energi tersendiri. Sebagian menemukan kelegaan di dalamnya, tapi beberapa jadi terluka. Namun, di tangan orang yang tepat, kata-kata itu justru jadi rumah yang hangat untuk menguatkan dan menyembuhkan.
Kekuatan kata-kata itu tidak boleh dipandang sebelah mata. Tak heran, bila nasihat orang bijak dulu, seperti “hati-hatilah kalau berkata” itu masih amat relevan sampai sekarang. Kata-kata itu seolah cermin jiwa yang bisa menunjukkan karakter seseorang.
Demikian pula isi kedua buah paragraf pembuka dalam tulisan Melati Mewangi & Dwi Bayu Radius dalam kolom Sastra, berjudul, “Kata-kata yang Menjadi Rumah” Kompas, Minggu, (19/10/2025).
Kata-kata itu Bernyawa
Jika Anda masih ingat dalam tradisi bangsa kita, bahwa ‘kala seorang Raja sedang bertitah,’ maka tertunduklah wajah kedua abdinya itu hingga ke tanah. Jadi, kata bertitah alias ‘berkata/bersabda’ itu memiliki ‘nyawa atau bobot, roh atau spirit’ kekuasaan yang wajib dipatuhi. Ya, itulah kekuatan dan kuasa kata-kata. Itulah pula, nyawa dari kata-kata.
Dampak dari Kata-kata Pribadi Beradab dan Kata-kata Pribadi Jalanan
Itulah sebabnya, dalam hidup ini, kita sudah mampu membedakan, antara kata-kata dari pribadi yang beradab dengan pribadi jalanan.
Seperti kata-kata yang sangat berempati dan berpersuasi, justru dapat membangunkan orang dari keterpurukan hidup. Sedangkan kata-kata nyinyir atau merendahkan dapat menyimpan luka batin. Ya, sungguh dalam konteks ini, ternyata energi dari setiap kata itu ditentukan oleh pribadi masing-masing, demikian Melati & Dwi.
Kapan sebuah Kata dapat Jadi sebagai sebuah Rumah?
Bukankah lebih nyaman, ketika Anda berada di sebuah rumah daripada saat Anda berkeliaran di sebuah jalan, bukan? Ya, itulah realitas yang berkaitan dengan rasa nyaman dan aman.
Betapa Anda akan terperanjat dan berbahagia, kala disapa lewat kata-kata yang ramah dan penuh kehangatan, bukan? Sebaliknya, betapa Anda akan tertunduk malu, tersinggung, dan tersiksa di kala Anda menerima cibiran serta cemoohan.
Kata-kata itu dapat jadi sebuah rumah idaman justru di kala Anda berkata-kata dengan tuturan yang positif, halus, tamah, dan empatik.
Seperti “Para saudara yang kami rindukan, mari, selamat datang ke rumah kami. Kami, justru sangat berbangga atas kehadiran saudara!”
Inilah sebuah statemen yang juga ibarat sebuah rumah idaman bagi para tamu yang datang ke rumah Anda.
Mengapa? Bukankah karena Anda ber-“kata-kata dengan sangat berempati” yang dapat melahirkan rasa nyaman, bahagia, dan rasa tenteram bagi para tamu Anda?
Jadi, kata-kara berempati itulah yang dapat diibaratkan sebagai sebuah rumah!
Bukankah totalitas kepribadian Anda adalah sebuah rumah idaman bagi sesamamu?
Kediri, 20 Oktober 2025

