“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Luk 18: 7).
Kita pasti pernah bertemu dengan orang yang ngotot (bersikeras, memaksakan kehendak, atau tidak mau mengalah) dalam suatu pendapat atau keinginan. Jikalau pendapatnya benar, mungkin dapat diterima dan dipertimbangkan. Namun, apabila pendapatnya itu keliru dan dia ngotot, mungkin hal ini membuat kita ikut emosi.
Sikap ngotot dalam berdoa itu mungkin perlu direfleksikan. Sikap ngotot yang dimaksud di sini, ialah sikap berdoa dengan tekun, penuh keyakinan, dan tidak mudah menyerah. Hal ini mencerminkan sikap yang gigih dalam meminta kepada Tuhan. Inilah doa yang penuh iman dan keteguhan. Namun, bukan ngotot dalam arti negatif, yakni memaksakan kehendak kita kepada Tuhan, melainkan ketekunan dan kepercayaan, bahwa Tuhan akan menjawab sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.
Sudahkah kita memiliki sikap ini dalam hidup rohani kita? Ataukah kita masih bersikap ‘seadanya’ saja, pokoknya saya berdoa, dikabulkan atau tidak itu terserah Tuhan. Tapi akhirnya kita tidak bertumbuh dalam pengharapan?
Mari kita jadi para peziarah pengharapan, orang yang terus berjalan menuju Allah di dalam pengharapan.
RP. Josemaria Caritas, CSE
Minggu, 19 Oktober 2025
Kel 17:8-13 Mzm 121:1-8 2Tim 3:14-4:2; Luk 18:1-8
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

