“Berbahagialah orang yang imannya berakar dalam belas kasih, dan yang sukacitanya tumbuh bahkan di tengah pencobaan.”
Allah menunjukkan kepada kami melalui Abraham, bahwa kebenaran sejati itu bukan hasil dari usaha manusia, melainkan anugerah bagi hati yang percaya.
Ketika segala sesuatu itu tampak mustahil, Abraham tetap berharap; ketika tanah hidupnya terasa tandus, imannya justru bertumbuh subur karena percaya kepada Allah yang setia pada janji-Nya.
Kami ingin memiliki iman seperti itu, bukan iman yang sempurna, melainkan iman yang bertahan; bukan iman yang sombong, melainkan yang bersandar penuh pada kasih setia Allah. Sebab Ia tidak menghitung kesalahan kami, melainkan kesetiaan hati yang mau percaya. Seperti kata Pemazmur, “Berbahagialah orang yang dosanya diampuni, yang hatinya tidak lagi menyembunyikan tipu daya.” Tuhan, biarlah sukacita dari pengampunan-Mu jadi kekuatan kami.
Yesus mengingatkan kami untuk tidak takut kepada mereka yang hanya dapat membunuh tubuh, namun tidak dapat menjamah jiwa. Ketakutan sering membuat kami munafik; berpura-pura demi diterima, menyembunyikan iman agar tidak ditolak. Tapi Allah memanggil kami pada kebebasan sejati: percaya, bahwa kami dikenal, dikasihi, dan dijaga oleh-Nya bahkan dalam hal-hal yang paling kecil. Sebab setiap helai rambut kami terhitung, dan seekor burung pun tidak jatuh tanpa sepengetahuan-Nya.
Ya, Allah ajarlah kami untuk hidup dalam iman yang teguh dan damai. Jadikan iman kami benteng di tengah kebingungan, jangkar di tengah penderitaan, dan sumber sukacita di tengah ketidakpastian. Seperti St. Yohanes Paulus II berseru: “Jangan takut!” Demikian pula kami mau berkata hari ini: “kami percaya, Engkau sudah lebih dulu menjaga setiap langkah kami.”
Ketika kekhawatiran itu datang, ingatkan kami pada sukacita Abraham. Ketika rasa bersalah menghantui, ingatkan kami pada mazmur Daud: “Engkau menghapus kesalahan dosaku.” Ketika ketakutan itu melumpuhkan, bisikkan lagi kepada hati kami: “Jangan takut, engkau berharga di mata-Ku.”
Tuhan Yesus, kami percaya kepada-Mu dengan sepenuh hati, sukacita, dan tanpa ragu. Kami percayakan segala sesuatu seturut kasih-Mu. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

