“Ketika kasih jadi ukuran dari segalanya, hukum bukan lagi beban, melainkan napas kebebasan dalam Roh Kudus.”
Allah melihat yang tidak terlihat oleh mata manusia: gerak hati yang paling dalam. Ia menghakimi dengan kebenaran dan membalas dengan belas kasih. Ia tidak memandang rupa, tapi selalu sabar terhadap kelemahan kami.
Lewat Santo Paulus, Allah mengingatkan kami, bahwa tidak seorang pun benar di hadapan-Nya dengan menghakimi sesamanya, sebab kesalahan yang sama sering tersembunyi di dalam diri kami. Kebaikan-Nya bukan untuk membenarkan dosa, melainkan untuk menuntun kami kepada pertobatan.
Ya, Allah, kami merasa aman dengan mengikuti aturan-aturan iman. Kami mengandalkan kebiasaan lahiriah, seolah kesalehan bisa diukur dari rutinitas. Padahal, seperti yang diajarkan Yesus dalam Injil, bahwa kesalehan tanpa kasih itu kosong. Orang Farisi memperhatikan hal-hal kecil, tapi melupakan hal yang paling penting: keadilan dan kasih akan Allah.
Ajarlah kami kembali, ya, Allah, bahwa iman bukanlah sistem yang harus dikuasai, melainkan relasi yang harus dijalani.
Seperti dikatakan Paus Benediktus XVI, kuk Kristus bukanlah doktrin untuk dihafalkan, melainkan “Pribadi untuk diikuti.” Pribadi yang mengubah hati melalui kasih.
Hari ini kami mengenang Santa Teresa dari Yesus (Avila), wanita yang menemukan kebenaran itu dalam keheningan doa. Ia belajar, bahwa kesempurnaan sejati tidak terletak pada banyaknya perbuatan, tapi pada kerelaan membiarkan Engkau berkarya di dalam dirinya. Hidupnya menunjukkan, bahwa pembaruan sejati Gereja dimulai bukan dari struktur, melainkan dari hati yang menyala oleh persahabatan Ilahi.
Seperti Santa Teresa, semoga kami mencari Engkau bukan dalam kemegahan, melainkan dalam kesetiaan yang rendah hati;
bukan dalam kebanggaan rohani, melainkan dalam kasih yang menyerah penuh.
Semoga doa sucinya jadi doa kami juga: “Janganlah kuatir tentang apa pun, segalanya akan berlalu.
Janganlah takut akan apa pun, Allah tidak berubah. Kesabaran akan menang atas segala hal. Barangsiapa percaya akan Allah, tak akan kekurangan. Allah saja cukup.”
Ya, Tuhan, Engkaulah batu karang, istirahat, dan keselamatan kami.
Ketika kesombongan membuat kami mengukur orang lain, ajarlah kami untuk berharap hanya pada-Mu. Ketika kelelahan melemahkan semangat kami, tariklah kami kembali ke hati-Mu: sumber kerahiman yang tak habis-habisnya.
Semoga setiap tindakan kami, yang tampak maupun tersembunyi, jadi pujian bagi-Mu. Sebab Engkau, ya, Allah, membalas bukan dengan ukuran manusia, melainkan dengan kasih yang abadi.
“Ya, Yesus, Raja Kerahiman Ilahi,
kasihanilah kami dan seluruh dunia. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

