Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Harapan saya, warisan Pak Hoegeng itu senantiasa mengusik
pikiran Anda. Inilah sari pati warisan watak dan sikap tokoh kejujuran yang melegenda itu.”
(Butet Kartaredjasa)
‘Setelah lebih dari sebulan geger perlawanan rakyat terhadap institusi kepolisian, saatnya kita merenungi kembali lembaga penegak hukum dan penjaga ketertiban umum ini,’ demikian ‘sub judul’ dari tulisan seniman Butet Kartaredjasa dalam opininya berjudul, “Lembing Tak Sudi Berpaling,” Kompas, Selasa (14/10/2025).
Lewat opininya ini, Sang seniman unik ini seolah mau mengetes daya sadar dan kadar ketulusan hati kita saat menghadapi hiruk pikuk sebuah aksi spontan oleh rakyat Indonesia sebagai reaksi kemarahan mereka, antara lain juga kepada pihak kepolisian.
Sekaligus kita mengkaji dan menelisik warisan Pak Hoegeng, jenderal polisi legendaris yang 14 Oktober ini (jika masih hidup) usianya genap 104 tahun. Demikian Butet.
Puisi Hoegeng
Aku,
anak panah meluncur lurus seperti lembing tak sudi berpaling
Aku berlian purba membatu tak hancur digempur seribu palu
Aku,
gelombang menerjang tak ada yang mampu mengendalikan
Aku,
api yang membakar keserakahan menjadi debu dan arang
Aku ombak yang berteriak tak bisa diubah menjadi jadi riak
Aku samudra luas bersahaja bukan tenang air mata
Aku,
baja setebal imanku yang sentosa
Aku, Hoegeng namanya
(Butet Kertaredjasa)
Inilah Harta Warisan Pak Hoegeng untuk Bangsa Indonesia
Sang seniman nyentrik ini seolah mau berkata, bahwa puisinya ini adalah ungkapan dan ekspresi paling tulus dari karakter sejati Jenderal Polisi yang terkenal akan kejujurannya itu.
Hanya ada Tiga Polisi Jujur di Indonesia
Apakah masih ingat pada guyonan nyentrik Gus Dur, bahwa di negeri tercinta ini, sejatinya justru hanya terdapat tiga orang polisi yang paling jujur? Ketiganya itu adalah ‘patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Polisi Hoegeng.’
Makna Sebuah Puisi
Puisi adalah sebuah karya seni sastra yang kental, padat, berirama, dan kaya akan makna. Bahkan sebuah puisi sebagai sebuah ungkapan doa yang mengalir deras dari dasar lubuk jiwa manusia. Dia mau mengekspresikan isi dan sari pati jiwanya tentang suatu hal, karena bukankah sebuah karya seni itu justru tak kenal akan batas? Artinya ia bebas mengungkapkan hal apa saja.
Lewat puisinya ini, seniman Butet justru memproklamasikan kesejatian dan karakter jujur dari polisi Hoegeng.
Bagi sang Penyair, inilah Sejumlah Karakter Kokoh dari Jenderal Polisi Hoegeng:
- Aku, sesosok pribadi yang bersikap lurus bagai mata lembing yang tak kenal untuk berbalik.
- Aku, pun kokoh bak batu berlian purba yang tak sanggup lebur kala digempur.
- Aku, pun tak gentar kala digempur oleh ganasnya gelora laut.
- Aku, laksana api yang membakar serakah, agar biarlah ia menjadi arang.
- Aku, pun bagaikan besi baja yang kokoh dalam beriman.
- Dan aku pun, bernama Hoegeng, putra sejati dari negeri tercinta ini!
Inilah sejumlah katakter sejati yang terekspresi lewat karya puisi. Kini, siapakah kita ini? Juga siapah para polisi kita hari ini, di negeri ini?
Refleksi
Mari sebagai warga dan anak bangsa, kita berefleksi, “mengapa dan dari manakah datangnya semua kenyataan pahit ini?”
Ingatlah, pada prinsip dasar hukum “sebab akibat!”
“Jika Ada Aksi, Maka akan Lahirlah Reaksi!”
Kediri, 15 Oktober 2025

