“Iman sejati bersinar, ketika kasih itu jadi nyata, dan saat hati yang diterangi kebenaran Allah meluap dalam kemurahan bagi sesama.”
Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan seluruh ciptaan memuliakan karya tangan-Nya. Tapi betapa banyak hati yang, meski dikelilingi keindahan-Nya, tidak lagi mengenal-Nya. Seperti disampaikan Santo Paulus, kekuatan dan keilahian-Nya nyata dalam segala ciptaan, tapi manusia sering memilih menyembah ciptaan, bukan Sang Pencipta, sehingga alami kebutaan rohani itu.
Yesus duduk makan bersama seorang Farisi dan menyingkap kekosongan dari kesalehan lahir tanpa kasih di dalam. Ia mengingatkan kami, bahwa kemurnian sejati bukan berasal dari ritual, melainkan dari belas kasih; bukan dari penampilan, melainkan dari hati yang memberi.
Ajarlah kami, ya Allah, bahwa segala yang kami miliki: waktu, tenaga, harta, dan semuanya itu berasal dari-Mu dan harus kembali kepada-Mu melalui kasih.
Semoga kami meneladani kebijaksanaan para Kudus:
seperti Santo Yohanes Krisostomus, yang berkata, bahwa pakaian ekstra milik kita sebenarnya milik orang yang tak berpakaian;
dan Santo Leo Agung, yang menegaskan, bahwa kelebihan kita adalah hak kaum miskin.
Jauhkan kami dari sikap menahan berkat yang seharusnya mengalir.
Jadikan kemurahan hati kami sebagai kesaksian hidup Injil: suara yang bergema bersama langit dan bumi, memuliakan Engkau: “Tuhan itu baik, kasih setia-Nya kekal selamanya!”
Ketika kami memberi, semoga kami melihat wajah Yesus dalam diri mereka yang menerima. Ketika kami berbagi, sucikanlah hati kami.
Ketika kami mengasihi, semoga dunia melihat cahaya-Mu yang memancar melalui kami.
“Ya, Yesus, Raja Kerahiman Ilahi,
kasihanilah kami dan seluruh dunia. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

