Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Andaikan mata seorang manusia terdapat di belakang kepalanya.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Sungguh Unik dan Aneh Manusia itu
Manusia itu, sungguh sebagai makhluk yang sangat unik dan bahkan sering kali terkesan aneh. Mengapa demikian? Ya, memang sangat sering, bahwa seorang manusia cenderung untuk mudah melihat kesalahan, kekurangan, dan cacat orang lain; sedangkan kesalahan dan kekurangan dirinya sendiri, justru sangat sulit untuk diketahuinya.
Oleh karena itu, tidak jarang orang-orang mulai berceloteh, bahwa ‘bagaimanakah jadinya, andaikan mata seorang manusia itu, justru diletakkan di belakang kepalanya.’ Maka, lewat konteks yang spesial ini, kini kian mengertilah kita, ketika Yesus pernah berkata, bahwa “Mengapa selumbar di dalam mata saudaramu sanggup kau lihat, tapi balok di matamu sendiri, justru tidak engkau lihat.”
Marilah Kita Camkan Kisah Bermakna berikut ini!
Kita Buta terhadap Kelemahan Sendiri
Seorang Profesor yang dikenal sebagai pelupa, naik ke atas pelana keledainya, karena dia sangat ingin untuk berkunjung ke rumah salah seorang sahabat baiknya. Tapi, di saat yang sama itu, ia justru sedang tekun membaca sebuah buku.
Rupanya keledai itu tahu, bahwa Tuannya itu tidak mengendalikannya. Maka, binatang yang cerdik itu justru memutar dan membawa Tuannya untuk kembali ke rumahnya sendiri. Tapi aneh, karena Profesor itu, justru tetap tidak sadar akan keadaan itu. Setibanya di tempat itu, ternyata ia tetap berdiri untuk menunggu sahabatnya.
Sambil menunggu, sang Profesor mulai memandang ke arah rumah itu. Lalu dengan lantang ia berkata, “Ya ampun, sahabat baikku, ternyata kamu telah membiarkan rumahmu berantakan seperti ini. Aneh, karena ternyata kamu tidak membenahinya.”
Seketika itu, maka terperanjatlah Profesor itu, karena ia mendengar suara istrinya sendiri yang menimpalinya, “Ya, sungguh tepat dan benar kritikanmu itu.”
Ernst Wilhelm Nusselein
(1500 Cerita Bermakna)
Manusia, Oh, sang Manusia
Bukankah di seluruh dunia, orang-orang telah mengetahui, bahwa ‘keledai adalah hewan yang paling bodoh?’ Bahkan ada sebuah kiasan yang mengungkapkan, bahwa percuma saja, jika Anda mau berdiskusi dengan orang-orang bodoh. Artinya, “Janganlah kamu mau berdiskusi dengan seekor keledai.”
Lewat kisah Profesor yang pelupa dan mudah lupa diri ini, kita terpanggil juga untuk mau berefleksi, agar kita dapat hidup dengan kesadaran.
Dunia pun Membutuhkan Kecerdasan Emosi (EQ).
Di sisi yang lain, ‘hendaklah kita pandai memosisikan diri, bahwa di manakah kita sedang berada?’ Mengapa justru haruslah demikian? Ya, bukankah keunikan dan kebiasaan personal itu dapat saja tidak sesuai dengan kondisi atau sikon di sebuah tempat atau keadaan yang baru? Untuk itu, sekali lagi, maka sangatlah dibutuhkan kecerdasan emosional (EQ), dan kemampuan untuk beradaptasi dengan suatu keadaan yang baru. Sebab jika tidak demikian, maka kita akan mudah terjerembab ke dalam sikap picik, karena hanya andalkan kalkulasi nalar (IQ) semata.
Refleksi
“Cogito Ergo Sum!”
(Karena Aku Berpikir, Maka, Aku pun Ada)
“Sapere Aude!”
(Berani Memakai Akal dan Budimu Sendiri)
Karena bukankah makhluk manusia adalah insan yang berakal budi dan bernurani?
Kediri, 14 Oktober 2025

