Dari buku “Learning to Walk in the Dark” tertulis, bahwa manusia amat takut dengan kegelapan, karena gelap kerap jadi simbol kesusahan, kesesakan, kesedihan, kemalangan, ketakberdayaan, derita, pupusnya harapan, walaupun terkadang tidak mempunyai pilihan lain kecuali menjalani gelap itu. Misal kisah pemulung itu.
Pertanyaannya: “Apa yang salah, jika kita dalam gelap itu mempunyai problem atau menderita? Apa yang salah, jika kita takut? Mengapa kita menghindar dan ingin cepat-cepat lari dari gelap, ketakutan, dan derita itu?
Jurnalis New York Times, Stevenson menulis: “Would rather light a candle rather curse the darkness.” Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik kita menyalakan lilin. Mengumpat, memaki, mengutuk sampai ‘bibir ndower’ itu tidak akan mengubah apa-apa sampai ada nyala. Hanya terang yang bisa mengusir gelap itu. Maka nyalakan iman harapan itu, dan jadilah solusi, karena mengutuki masalah itu tidak ada guna. “Learn to walk in the dark!”
Tidak sedikit orang-orang dekat yang karena keadaan, berjalan dalam gelap. Ada guru yang nyambi jual bacem, dosen yang ngojek, lansia tetap memulung. Alasannya: “Nggih dos pundi malih mas. Nutup ragad sekolah, bayar kontrakan, listrik,” mendorong kami berani berjalan dalam gelap. “Learn to walk in the dark!
Gelap itu sempat singgah juga di hidupku. Saat tiga perempuan yang kucintai belum tuntas tinggal landas, padahal saya sudah tuntas alias pensiun. “Duh Gusti, nyuwun kawelasan.” Apakah mengumpat keadaan? “No, I learn to walk in the dark.” Ketika lilin kunyalakan, ternyata tangan Tuhan telah terulur lewat aneka cara: tetap kerja, walau tak seberapa, kujual barang-barang yang tabu di saat normal, uluran tangan tiga saudara kandungku yang tidak pernah kuduga, dari sahabat, dan juga institusi yang saya layani sampai hari ini.
“Yes, we have to learn walk in the dark. Light the candle and keep walking.”
Salam sehat.
Jlitheng

