Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Akulah satu-satunya yang akan diselamatkan, ia milikku seorang.”
(Deklarasi sang Pecundang)
Ego sang Pecundang
Si Pecundang, memang, di mana-mana dan kapan pun selalu mau mementingkan dirinya sendiri. Karena memang hatinya selalu dipenuhi oleh nafsu dan aneka keinginan jahat.
Kisah Sikap Egois Wanita Pecundang
Seorang wanita Pecundang meninggal dunia. Seorang Setan segera menyeret dan melemparkannya ke dalam lautan api yang terus berkobar siang pun malam. Tapi di saat yang sama, sang Malaikat pelindungnya sempat teringat, bahwa di suatu kesempatan, wanita Pecundang ini pernah mengulurkan tangan untuk memberikan bawang merah kepada pengemis.
Malaikat itu lalu segera menghadap Tuhan, “Saya ingat, bahwa suatu kali, wanita Pecundang ini pernah memberikan bawang merah kepada pengemis.”
“Ya, benar itu,” kata Tuhan. “Segera ambillah bawang merah yang sama ukurannya itu dan ulurkan kepada si wanita Pecundang itu untuk mengangkatnya. Jika kamu berhasil, dia pun boleh dibebaskan.”
Maka, Malaikat itu segera menarik wanita itu dengan hati-hati. Tapi di saat itu, orang-orang lain beramai-ramai menggantungkan dirinya ke tubuh wanita Pecundang nan malang itu.
Apa yang terjadi? Sang wanita Pecundang itu segera menendang mereka sambil berteriak, “Akulah satu-satunya yang akan diselamatkan oleh bawang merah kecil ini, ia milikku seorang; ia bukan milikmu.”
Di saat itu pula tali bawang merah itu putus dan wanita Pecundang itu kembali terlempar ke dasar lautan api abadi itu hingga detik ini. Malaikat pelindungnya mulai terisai-isak, ia larut dalam penyesalan abadi.
Tuhan pun sempat bergumam, “Dasar Pecundang …!”
After Dostoyeswski
(1500 Cerita Bermakna)
Dasar Pecundang
Saya pun sungguh tertarik oleh gumanan singkat dari Sang Tuhan, “Dasar, Pecundang!” Sebuah frase berupa statemen singkat ini mau mendeskripsikan rasa kecewa akan tabiat murahan dari Pecundang ini. Ya, begitulah karakter dasar seorang Pecundang. Bukankah ia selalu mementingkan dirinya sendiri?
Dalam konteks ini, wanita Pecundang ini justru ingin, agar yang diselamatkan hanya dirinya, sedangkan orang lain, jangan diselamatkan. Inilah sebuah isyarat, bahwa betapa kentalnya sikap egois di dalam dirinya. “Akulah satu-satunya orang yang akan diselamatkan.”
Sedangkan di sisi yang lain, bahwa betapa mulianya hati Malaikat pelindungnya, dan betapa rahimnya hati Sang Tuhan. Tapi, sebuah sikap egois itu justru telah melunturkan segala-galanya! Nasib, oh, sang nasib!
Refleksi
Pada prinsipnya, bahwa keselamatan itu adalah hak prerogatif Sang Tuhan. Di sisi lain, dibutuhkan juga sikap rendah hati dari manusia sebagai sebuah keseimbangan.
Faktanya, sering kali sikap kedegilan hati manusia itu sebagai penghambatnya.
Bukankah seorang anak manusia bebas untuk mengekspresikan dirinya? Ia berkehendak bebas. Termasuk, ia bebas untuk memilih sebuah jalan yang terburuk bagi dirinya!
Kediri, 13 Oktober 2025

