“Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Luk 17: 19).
Satu dari sepuluh orang yang disembuhkan itu kembali dan mengucap syukur kepada Yesus. Apakah bersyukur itu sulit sekali, sehingga kesembilan orang lain itu tidak kembali kepada Yesus untuk memuliakan Allah? Mengapa mereka hanya tahu meminta, tapi tidak tahu bersyukur? Mungkin kita heran dengan peristiwa ini. Bersyukur itu ternyata tidak begitu gampang seperti yang diduga orang.
Kita harus kembali kepada Tuhan dan sujud menyembah di kaki-Nya. Namun, bersyukur juga mengandaikan adanya iman. Bersyukur lahir dari iman. Orang yang mengakui ketidakmampuannya dan menyadari kebaikan Tuhan akan bersujud di hadapan-Nya. Penyembuhan orang Samaria itu diakui bukan karena kekuatan sendiri, melainkan berasal dari Tuhan.
Mengapa bersyukur dalam hidup ini makin sulit? Karena orang merasa telah dapat melakukan amat banyak hal dengan kekuatan dan pikirannya sendiri. Segala-galanya makin dilihat sebagai usaha sendiri. Bersyukur itu sejalan dengan iman. Makin dalam iman seseorang, ia kian mengandalkan kekuatan Tuhan, sehingga ia tahu bersyukur. Iman ini tidak hanya membuat permohonan seseorang dikabulkan Tuhan, terlebih lagi ia akan diselamatkan sepenuhnya.
Rm. Klimakus de Jesu, CSE
Minggu, 12 Oktober 2025
2 Raj 5: 14-17 Mzm 98: 1-4 2 Tim 2: 8-13; Luk 17: 11-19
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

