Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Servis (layanan) yang baik hanya diberikan oleh pekerjaan yang baik, yang kenal disiplin, yang dapat dipercaya.”
(PK Ojong)
Mengkritik adalah sebuah reaksi berupa sebuah tindakan sosial yang dilontarkan secara spontan sebagai sebuah reaksi balik atas sebuah kebijaksanaan atau suatu tindakan. Reaksi balik itu dapat berupa: ucapan, tulisan, atau tindakan-tindakan lainnya.
Media sosial memberi ruang bagi warganet untuk melontarkan kritik secara terbuka. Ada yang berdasarkan data, sekadar opini, bahkan tak jarang berupa komentar ngawur yang menimbulkan kebisingan. Demikian isi paragraf pertama, kolom Karier, berjudul, “Seni Melontarkan Kritik” oleh Eileen Rachman & Linawati Mustopoh, konsultan SDM harian Kompas, Sabtu, (11/10/2025).
Kritik dalam Masyarakat
Kritik atau mengkritik adalah sebuah aksi yang sudah sangat lumrah di dalam hidup sosial antar warga masyarakat. Bahkan aksi kritik ini dapat dikategorikan sebagai ‘sebuah seni’ melontarkan pandangan dan sikap seseorang sebagai reaksi balik atas suatu kebijakan. Jadi, dalam konteks ini, sikap: aksi-reaksi.
Nilai Positif Sebuah Kritik
Menolak kritik dapat menutup peluang untuk berkembang dan memperbaiki diri. Saat masukan diabaikan, proses belajar berhenti dan kesalahan cenderung berulang tanpa disadari. Padahal, kritik yang dipahami dengan benar adalah energi untuk bertumbuh, baik dalam kehidupan pribadi maupun dunia kerja.
Bahkan sebuah kritikan jadi alarm dini sebelum kekeliruan berkembang jadi krisis besar, selain membantu seseorang mengenali kelemahannya serta menemukan cara untuk memperkuat kinerjanya. Sikap terbuka terhadap umpan balik juga menimbulkan tanggung jawab profesional dan membangun budaya kerja yang terus bertumbuh. Demikian Eileen & Lunawaty.
Empat Tipe Pengkritik
Ann Friedman membagi Pengkritik atas empat tipe.
- Lovers : Pengkritik yang mengenal kita dan ia ingin agar kita dapat berkembang.
- Critics : Pengkritik yang tidak mengenal Anda secara pribadi, tapi ia memberi masukan yang rasional yang berbasis kinerja.
- Frenemies : Pengkritik itu mengenal Anda, tapi ia memang berniat negatif. Untuk itu, Anda perlu berwaspada atas niat buruknya itu.
- Haters : Pengkritik ini tidak kenal Anda, jelas niatnya hanya ingin menjatuhkan Anda.
Anda perlu Pandai Pilah Memilah
Siapa pun di dunia ini, tentu akan bereaksi saat menerima sebuah kritikan. Bahkan bereaksi terhadap sebuah kritikan yang membangun pun apalagi terhadap sebuah kritik yang menjatuhkan.
Untuk itu, tentu saja sangat dibutuhkan sikap bijaksana dari pihak Anda untuk dapat memilahnya dengan baik dan benar. Dalam konteks ini, Anda tidak perlu kian besar kepala dan berbusung dada, jika menerima kritikan yang membangun dan sebaliknya, tidak merasa kecewa dan putus asa, jika menerima kritikan yang dapat mematikan spirit hidup Anda.
Tentu saja, sebuah kritikan yang dilontarkan secara benar dan tepat sasar (konstruktif), akan sangat membangun kehidupan. Sebaliknya, kritikan yang tak bermartabat dan tidak bermakna, justru akan berdampak menyakiti hati.
Refleksi
Jika ternyata kritikan itu merupakan sebuah art (seni), maka anggaplah itu sebagai sesuatu yang bernilai positif.
Dengan kesadaran ini, kritik dapat jadi peluang untuk belajar, kesempatan untuk berbenah diri, dan dasar bagi peningkatan kinerja, demikian Eileen & Linawaty mengakhiri tulisan mereka.
Kediri, 12 Oktober 2025

