Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Maaf, saudara, ternyata
terdapat juga jiwa di dalam tubuh jasmanimu.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Petuah Petitih Hidup
Sang Kebijaksanaan hidup kita telah mengajarkan bahwa:
- “Hendaklah Anda tidak menilai sesuatu sebatas lahiriah saja.”
- “Di balik kulit dan tulang, ternyata masih ada dagingnya.”
- “Selamilah hingga ke dasar laut, jika Anda ingin tahu rahasia yang sesungguhnya.”
- “Kegaduhan hidupmu, ternyata lahir dari kedangkalan hidup.”
Itulah sederet amanat berupa ‘petuah petitih’ untuk hidup arif dan bermartabat manusia.
Cermatilah Amanat Kehidupan Ini!
Hanya Melihat Bagian Luar
Manusia yang cenderung untuk sibuk mengurus bagian luar saja dari segala sesuatu di dalam kehidupan ini, dapat dibaratkan, “Orang yang hanya melihat tempurung kelapa, tanpa pernah menikmati air dan isi di dalamnya.” Karena bagi mereka, sebuah kelapa, identik dengan batoknya saja.
Bagi mereka, aktivitas “Menulis itu hanyalah ibarat menggoreskan tanda-tanda di atas sehelai daun kertas, tapi tanpa mereka tahu, bahwa goresan itu justru memiliki sebuah amanat, makna, dan arti penting bagi kehidupan ini.”
Manusia di dunia ini laksana orang-orang yang baru kluar dari dalam hutan rimba, karena mereka hanya mampu melihat sebatang pipa yang terulur, tapi tanpa tahu, bahwa ada air yang mengalir deras di dalamnya.”
Akhirnya dapat dikonklusikan, bahwa manusia di bumi maya ini, sangat sering hanya memandang pada tubuh jasmani seorang manusia, tanpa pernah membayangkan jiwa yang terdapat di dalamnya.”
Frank Mihalic
(1500 Cerita Bermakna)
Hidup Dangkal dan hanya di Atas Kepala
Kita mengakuinya, bahwa ternyata, manusia hanya doyan dan suka gaduh dengan sesuatu yang bersifat lahiriah belaka. Segala sesuatu hanya diukur lewat isi kepala dan mata kepalanya. Hal ini sangat berdampak, bahwa ukuran yang dipakai itu hanyalah ukuran standar dan dangkal.
Apa dampaknya bagi kehidupan ini? Ya, akhirnya sisi kehidupan ini hanya diukur sesuai isi kepalanya. Makna penting dari hidup ini hanya dipandang secara murahan dan dangkal.
Dampak Finalnya
Jadi, dalam konteks yang sangat penting ini, manusia akhirnya telah kehilangan seluruh identitas dan makna sejati dari eksistensi dirinya. Maka, hadirlah kita sebagai pribadi yang sudah tidak bermakna.
Refleksi
Itulah sosok pribadi manusia yang sudah tidak beridentitas dan hilang jati diri. Hampa dan tak bermakna!
Akhirnya, hadirlah seorang manusia yang hanya ibarat: sebatok kelapa, dan coretan yang tak bermana.
Manusia, betapa sialnya hidupmu!
Kediri, 9 Oktober 2025

