Mendung kedukaan itu langsung sirna, ketika saya mendengar wasiat kasih yang diwariskan oleh almahum Mas AT:
“Jika nanti saya mati, kembali pada Tuhan, tolong untuk dikuburkan secara Katolik.”
Wasiat kasih almarhum AT pada ponakan DT itu menggedor nurani ini, membuat saya tersungkur untuk sujud dan menyembah-Nya. Karena hal itu yang jadi kerisauan hati saya selama ini, bahkan sebelum Mas AT terkena stroke.
Bagaimana tidak risau. Karena Mas AT mengambang dalam beriman. Ia tidak menjalankan imannya; baik yang menurut Islam atau Katolik.
Jika saya mudik untuk menengok, sekaligus juga mengingatkan Mas AT dalam memilih dan menjalani, karena semua agama itu baik.
Melalui doa kasih dan ikhlas, saya panjatkan kepada Tuhan. Karena Mas AT itu ibarat anak hilang yang harus diingatkan dan dibimbing untuk pulang ke rumah. Dengan berserah ikhlas, saya siap sedia untuk dibentuk-Nya, apa pun yang diberikan Tuhan kepada Mas.
Di tengah kerisauan hati ini, Minggu malam sepulang saya dari Gereja, keponakan DT menelepon, tapi hp saya matikan deringnya. DT lalu mengabari lewat WA, bahwa Mas AT sore tadi telah berpulang, ketika anak-anaknya sedang bekerja lembur. Kebetulan anak bungsunya di rumah sehingga mengabarkan keadaan Ayahnya pada DT.
Saya lalu menelepon Mas sulung yang ternyata sedang berziarah ‘porta sancta’ ke Jogja, dan juga belum mengetahui kabar duka itu.
“Bagaimana dengan pemakaman Mas?” tanya saya lirih.
“Mengikuti pihak keluarga, anak-anaknya,” jawab Mas lirih. “Kita hantar dengan doa, dan itu yang terbaik.”
Rencana Mas turun di A, pisah dari rombongan dan mau menginap di GMKA, lalu pergi ke rumah duka.
Saya gantian menelepon DT ingin mengetahui kejelasan kabar Mas AT, setelah saya memesan tiket KA untuk pemberangkatan malam itu juga.
Kabar dari DT yang membuat saya lega adalah, DT yang mendampingi keponakan saya itu menjelaskan, karena rumahnya tidak jauh, bahwa AT telah berpesan kepada anak-anaknya, jika meninggal ia ingin dikuburkan secara Katolik sesuai dengan imannya. Sehingga DT yang aktivis Gereja itu segera mendatangi ke ketua Lingkungan untuk mengurusnya.
Saya merasa lega dan hati ini jadi plong. Bagi saya kabar itu harus disyukuri, karena mengubah dari dukacita jadi sukacita keselamatan.
Tuhan memberkati!
Mas Redjo

