Red-Joss.com – Ada evolusi dalam menyebut orang kaya atau berharta. Ketika saya kecil, mimpi setiap orang itu ialah kepingin ndang dadi sugih, ingin kaya (raya) dan disebut wong sugih. (Ora Mekakat. Taruno).
Tolok ukurnya apa waktu itu? Jawabnya, yakni memiliki banyak harta benda, seperti jumlah rumah, luas dan banyaknya sawah/ pekarangan/lahan, banyaknya hewan piaraan, kepemilikan usaha, dan lain-lain yang langsung terlihat mata umum.
Perubahan terjadi, sebutlah ada pergeseran, karena dari ukuran harta kasat mata itu berubah menjadi yang tidak nampak, yaitu tabungan uang.
Sebutannya pun bukan lagi wong sugih, orang kaya, melainkan jutawan. Artinya, orang itu uangnya yang berada di bank berjuta-juta banyaknya, ‘sak thekruk’.
Berubah lagi dalam waktu relatif cepat, yaitu miliarder. Mengapa? Karena kalau hanya memiliki berjuta-juta rupiah saja, orang itu belumlah disebut kaya, baru setelah uangnya bermiliar-miliar; disebutlah ia kaya, miliarder.
Berubah lagi, yaitu triliuner. Sebab baru disebut kaya kalau uangnya bukan hanya miliaran, melainkan trilunan.
Prosesnya adalah bekerja, mencari, mengumpulkan, menyimpan, dan menimbun di (lumbung atau bank), jadi sugih… ‘ora mekakat’, tak terbayangkan. Jika uang satu miliar pecahan satu rupiah dijejer di lapangan bola, mungkin tidak cukup ya.
Kemarin saya mengunjungi teman SMA di Cinere, yang telah diminyaki suci (sakramen orang sakit, biasanya yang sakit parah) – beberapa hari sebelumnya. Secara fisik tak lagi saya lihat perkasanya. Langkahnya dipapah, walau tidak lebih dari 2 meter. Dia terengah dan minum pun tak lagi bisa langsung masuk kendati hanya 2 teguk. Saya jadi terdiam, suasana jadi senyap.
“Mas”, bisiknya (sebab dia tak bisa bicara keras lagi). “Seneng atiku. Anda kerso rawuh. Sekarang saya percaya, bahwa kekayaan yang sesungguhnya adalah saudara, sahabat dan sehat,” lanjutnya.
Jenis orang kaya seperti itu (bersaudara, punya sahabat dan sehat), tak ada sebutannya. Namanya bukan jutawan, miliarder, juga bukan triliuner. Tapi, ketika meninggal banyak orang yang melayat dan mendoakan, karena kebaikan hatinya selagi hidup di dunia ini. Berbagi itu bukan menimbun.
So, “panjenengan pilih yang mana?“
Tetap rela berbagi cahaya, selama hayat dikandung badan.
…
Jlitheng

