Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tren hidup di biara bagi para muda-mudi itu selaras dengan upaya menjaga kesehatan mental.”
(Laman Vice)
Dunia yang “Tabola-bale”
Hampir sebulan terakhir ini, Indonesia dan bahkan dunia seolah dilanda oleh sejenis aliran ‘musik anak muda’ oleh para penyanyi muda NTT yang sangat tenar dan justru digemari oleh hampir semua lintas generasi.
Lewat sebuah lagu berjudul “Tabola-bale,” (bolak-balik), yang dinyanyikan dengan lincah, penuh semangat, dan berjingkrak-jingkrak. Bukankah isi lagu itu justru mau mendeskripsikan sebuah kondisi hidup manusia yang memang terkesan sedang ‘bolak-balik’ alias terjungkir balik.
Fenomena Unik Generasi Z Eropa
“Kekristenan,” berdasarkan kronologi historis, memang tidak pernah dapat dilepaskan dari dan dengan benua Eropa. Bahwa ajaran kasih yang dibawakan oleh Yesus Kristus setelah di Yerusalem, justru berkembang pesat di daratan Eropa. Hingga detik-detik dan di abad paling modern ini, jejak peradaban Kekristenan sulit untuk dilupakan. Karena tapak-tapak peradaban itu, justru masih berdiri megah berupa bangunan Gereja monumental serta Biara-biara Katolik yang hingga kini masih anggun berdiri di hampir semua wilayah di belahan Eropa. Biara-biara antik dan agung itu, justru sebagai saksi bisu kejayaan Kekristenan di masa silam. Tapi, kini telah sunyi ditinggalkan oleh generasi zaman modern.
Generasi Z Ramai-ramai Berlibur Sunyi di Biara
Judul yang tertera dalam tulisan ini, bukanlah sebagai sebuah ‘isapan jempol,’ belaka, tapi sebagai sebuah fakta yang ‘tabola-bale’ alias ‘bolak-balik.’ Artinya, ratusan dan bahkan ribuan Komunitas Biara yang sudah kian sunyi karena ditinggalkan, tapi kini justru dijadikan sebagai tempat ‘pelarian sementara’ oleh Generasi Z untuk sekadar kembali bersunyi ria di balik tembok Biara.
Bagi sebagian Generasi Z di Eropa, liburan dengan hura-hura, pamer kemewahan, dan berpesta itu sudah usang. Tren baru liburan musim panas ialah menyepi di Biara. Demikian paragraf pertama tulisan dalam kolom Internasional berjudul “Generasi Z Ramai-ramai Berlibur Sunyi di Biara,” Kompas, Senin, (6/10/2025).
Fenomena Apa dan Mengapa sampai Terjadi Begini?
Ya, inilah sebuah fenomena yang terjadi dan dituliskan oleh wartawan harian Kompas yang diterbitkan pada hari ini, Senin, (6/10/2025).
Ternyata, para pelarian sementara alias (generasi Z), itu dapat menikmati suasana di Biara tua di bumi Eropa. Tertulis demikian, ‘dengan sirkulasi udara baik, kebun yang asri, dan suasana tenang, dinding-dinding tua Biara dari abad pertengahan menawarkan kemewahan yang tak bisa dinikmati Generasi Z (gen Z) kebanyakan.
Tren baru ini bisa disebut sebagai bentuk ‘pemberontakan’ damai terbaru oleh anak-anak muda terhadap kerasnya tuntutan zaman. Bahkan fenomena serupa ini sudah juga terjadi di China, Jepang, dan Korea Selatan lewat ‘gerakan rebahan,’ yaitu fenomena yang timbul dari banyaknya anak muda yang lelah dengan tuntutan untuk sukses. Bahkan fenomena serupa ini juga sudah terjadi di era 1967 saat demam gerakan hippie melanda dunia.
Bahkan di tahun 2024 lalu di Biara Suster Katolik ada remaja yang menjalani laku bisu bersama para Biarawati Katolik. “Pengalaman yang luar biasa ketika saya tinggal di sana. Sangat menyenangkan.” Demikian sebuah kesaksian.
Masa liburan tiga bulan (Juni-Agustus) 2024 diisinya dengan kehidupan membiara, jauh dari hiruk pikuk dunia. Tak ada berita perang, gejolak ekonomi, atau kesulitan hidup. Di sana hanya ada hubungan manusia dengan semesta dan Sang Pencipta. Bahkan dering telepon sudah tiada, atau bicara basa-basi. Semua lebih tenang, jauh dari pacar karena sehari-hari hanya diisi dengan memetik buah dan sayur, mendaraskan doa, serta refleksi.
Lewat refleksi berupa pengalaman dari Generasi Z di Eropa ini, sepantasnya juga jadi sarana belajar bagi orangtua dari Generasi Z di tanah air kita. Mengapa justru demikian?
Karena ternyata fenomena tabola-bale ini, terjadi justru sebagai sebuah protes orang muda, karena tuntutan hidup yang kian keras, konyol, dan tidak manusiawi. Generasi Z kita ingin kedamaian dan keheningan.
Maka, hentikanlah aneka tuntutan yang secara berlebihan kepada Generasi Z di tanah air kita.
Bahkan dalam sebuah survei terbaru, hampir 250.000 muda-mudi di Amerika Serikat mengalami kelelahan mental sebelum mencapai usia 30 tahun. (ONG).
Ingat!
“Anak-anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah orang-orang masa depan yang bebas menentukan nasibnya sendiri.”
(Kahlil Gibran)
Kediri, 7 Oktober 2025

