“Air beriak tanda tak dalam. Orang yang rendah hati itu lindap dalam belas kasih Allah.” -Mas Redjo
Ketika selalu diminta Ayah untuk mengalah pada adik, semula saya berpikir Ayah amat memanjakan dan lebih sayang kepada adik.
Ternyata anggapan saya keliru.
Maksud Ayah adalah agar saya belajar untuk mengalah dan sabar, karena adik belum mengerti (nalar).
Dengan mengalah dan mendulukan kepentingan orang lain pula, saya belajar mengalahkan ego ini agar rendah hati.
Resepnya adalah setiap masalah yang besar itu dikecilkan, sedang yang kecil itu untuk ditiadakan. Tanpa perselisihan dan konflik. Hidup ini jadi tenang dan damai. Sebaliknya, jika masalah kecil itu dibesar-besarkan membuat dada ini jadi menyesak dan sakit.
Dari keteladanan Ayah, saya juga belajar untuk merendah serendah-rendahnya agar orang lain tidak mampu merendahkan saya lagi.
Caranya adalah, yang menurut saya konyol, yakni mengalah tidak untuk menyanggah atau membalas. Bahkan saya berani meminta maaf, meskipun tidak bersalah!
Saya meminta maaf itu tidak berarti mengakui salah, tapi menunjukkan kebesaran hati. Karena meladeni orang yang merasa lebih hebat dan benar sendiri itu capai dan tiada gunanya.
Terekam jelas dalam ingatan saya nasihat bijak Ayah:
Orang yang murah hati itu tidak pernah merendahkan orang lain. Karena hidupnya didasari kasih dan ikhlas.
Kerendahan hati itu anugerah Tuhan. Hanya orang yang rendah hati itu mampu berbelas kasih untuk meneruskan rahmat-Nya.
Mas Redjo

