“Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: “Tuhan, juga setan-setan itu takluk kepada kami demi nama-Mu” (Luk 10: 17).
Ketika para murid kembali dari tugas pelayanan, mereka bersukacita, karena berhasil mengusir setan dalam nama Yesus. Mereka mungkin merasa bangga, karena dapat mengalami kuasa Ilahi bekerja melalui mereka terhadap orang-orang yang dilayani. Tapi Yesus segera menegur mereka.
“Janganlah kamu bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tapi bersukacitalah, karena namamu terdaftar di Surga” (ay. 20).
Mungkin di zaman sekarang, kita mudah terjebak dalam sukacita yang salah arah. Misslnya, bersukacita, karena diakui sebagai orang yang hebat dalam pelayanan, bahkan mungkin ada juga yang bersukacita, karena merasa mampu mempengaruhi dan mengubah orang lain dengan kemampuannya. Tapi Yesus melayani bukan untuk kesuksesan diri-Nya, melainkan untuk menunjukkan kemuliaan Allah Bapa.
Dalam pelayanan, kita pasti menghadapi banyak tantangan, seperti kritik, penolakan, keletihan, dan kepahitan. Tapi segala tantangan ini tidak boleh menyurutkan sukacita kita, karena sukacita kita berasal dari Tuhan yang memanggil dan memberi kita kuasa.
Mari kita melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Allah.
Sr. M. Karinna, P. Karm
Sabtu, 04 Oktober 2025
Bar 4: 5-12.27-29 Mzm 69: 33-37 Luk 10: 17-24
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

