Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Hakikat budaya adalah dinamis seperti dinamika perkembangan manusia pemiliknya. Sejarah telah mencatat fakta itu dari zaman ke zaman, baik dalam setiap komunitas adat budaya maupun secara global lintas komunitas dan wilayah.
Kesenian tradisi adat budaya pun dinamis. Ada yang hilang, bertahan, berinovasi, dan ada pula yang bertransformasi. Hal itu sangat erat kaitannya dengan komunitas pemiliknya, manfaat dan konteksnya, dan pengaruh perkembangan global.
Mengamati sekitar 25 tahun terakhir, di komunitas adat budaya lokal, ada tercipta kelompok sanggar kesenian tradisi adat budaya, baik dalam komunitas asalnya, maupun di komunitas diaspora.
Penggunaan kesenian tradisi adat budaya itu beraneka ragam. Ada yang dipakai untuk kebutuhan internal komunitas, ada yang disiapkan untuk kebutuhan pihak luar. Misalnya dalam kepentingan penerimaan tamu oleh pemerintah daerah, serta atraksi bagi para wisatawan yang berkunjung, baik di lokasi sanggar seni itu, hotel, dan di luar komunitas.
Yang menarik dicatat adalah soal konteks penggunaan kesenian tradisi tersebut. Ketika dibayar sebagai paket pentasan, baik untuk keperluan pemesan lokal maupun wisatawan, maka ada keharusan melakukan banyak penyesuaian. Penyesuaian jumlah seniman, waktu pentasan, kostum, dan model kesenian sesuai kebutuhan dan kesepakatan. Hal ini yang menagih upaya serius kelompok seniman sanggar untuk berkreasi, berinovasi, kolaborasi, dan bertransformasi.
Berkesenian untuk melayani kebutuhan pihak lain, dengan sebuah kesepakatan dan mendapat bayaran sebagai imbalan. Hal ini sungguh berbeda konteks dengan kegiatan kesenian dalam komunitas adat budaya zaman lampau.
Tentang kesenian tradisi adat budaya lokal ini, pernah ada perdebatan soal asli dan kreasi, soal nama dan asal usul serta pemilik.
Seiring berjalannya waktu, khusus yang saya ketahui di wilayah Flores, bahwa tidak ada kelanjutan dan kesimpulan perdebatan tersebut. Menurut saya, dinamika budaya, termasuk juga dalam kesenian tradisi adat budaya, apalagi yang dikembangkan sanggar seni untuk kebutuhan zaman now, atau kepentingan melayani pesanan pihak luar komunitas adat, maka titik temunya bukan pada soal asli atau kreasi. Tetapi, ada pada kesepakatan kebutuhan dan pembayaran, sebagai imbalan jasa pentasan kesenian. Mungkin yang sakral adalah kesenian dalam konteks ritual adat budaya.

