“Belas kasih Allah tidak pernah lelah memanggil kita kembali. Tapi jadi nyata, bila kita bertobat dan hidup menurut jalan-Nya.”
Sabda Tuhan menyingkapkan luka dan sekaligus obat bagi jiwa kami. Lewat Barukh, kami mengaku bersama Israel: “Bagi kami pantas malu, sebab kami telah berdosa dan tidak mendengarkan suara Tuhan.”
Dalam Mazmur kami berseru: “Janganlah Engkau luputkan kami, karena kesalahan leluhur; segeralah datang belas kasih-Mu, ya, Tuhan, penolong kami.”
Namun dalam Injil, Yesus meratapi kota-kota yang menyaksikan karya besar-Nya, tapi tidak berubah dan bertobat. Ia mengingatkan kami, bahwa belas kasih-Nya bukanlah untuk dikagumi dari jauh, melainkan untuk diterima dengan rendah hati dan dihidupi dalam ketaatan.
Sering kali kami seperti Korazim dan Betsaida; diberkati dengan banyak rahmat, tapi lamban untuk berubah. Kami tetap melekat pada cara lama dan menunda pertobatan. Namun teguran-Nya adalah wujud kasih, agar kami sadar dan kembali mengalami hidup baru dalam kerahiman-Nya.
“Tuhan, gerakkan hati kami untuk sungguh menyesali dosa, percaya pada belas kasih-Mu, dan berani berdamai dengan-Mu. Mampukan kami bukan hanya mengaku dengan bibir, melainkan juga memilih perintah-Mu dalam keseharian kami. Semoga iman yang Kau tanamkan dalam diri kami berbuah nyata: hidup yang penuh kasih, rendah hati, dan membawa terang bagi sesama.
Demi Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

