Apa reaksi spontan kita, ketika menjumpai hal-hal ini:
- Ada orang yang sok pintar, tapi sebenarnya tidak pintar.
- Ada orang yang tidak tahu, tapi tidak mau untuk belajar.
- Ada orang yang sudah sering kali diberitahu, tapi tetap tidak mau mendengarkan.
- Ada orang yang senangnya menasihati orang lain, tapi saat dinasihati tidak mau.
- Ada orang yang sibuk dengan dirinya sendiri, dan tidak mau tahu dengan yang terjadi di sekelilingnya.
Bisa jadi ada salah satu-dua hal di atas itu yang sedang terjadi pada diri kita.
Memahami orang lain dan diri sendiri itu sulit. Pikiranku, pikiranmu, dan pikiran mereka itu tidak sama. Kehendakku, kehendakmu, dan kehendak mereka, apalagi, tidak ada yang tahu. Ada ungkapkan, “Dalamnya lautan bisa diketahui, tapi dalamnya hati, ‘nobody knows’.
Jika kita menceritakan, itu hanya 25-50%. Ke orang mengatakan, “Saya ini orang jujur”, tapi tetap, tidak 100% diungkapkan. Masih ada yang dirahasiakan. Alasannya, malu, mencoreng nama baik, atau mungkin takut ditertawakan. Sehingga ada yang bilang pada diri sendiri, “lebih baik disimpan sampai mati.” Juga, ketika dalam ruang Sakramen Pengakuan Dosa, tidak 100% orang mengungkapkan hal yang terjadi.
Rahasia itu tetap jadi rahasia. Kita pandai sekali menyimpan rahasia. Teguran yang diberikan itu tidak memberikan perubahan, sebab pada dasarnya dengan “free will-kehendak bebasnya” itu setiap manusia itu bebas melakukan apa saja. Pertanggung-jawabannya dengan Tuhan. Makanya, kadang kita lelah memberitahu, menasihati, atau mengarahkan, karena yaitu, tidak mudah memahami seorang manusia.
Teguran Tuhan Yesus kepada para murid juga tidak dimengerti mereka. Tidak mengerti, tapi tidak bertanya.
Mari mawas diri agar kita peka untuk memahami kehendak-Nya.
Rm. Petrus Santoso SCJ

