Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Adat budaya dengan tradisi lisan, memiliki warisan dalam bentuk benda – material dan tak benda – non material. Warisan kekayaan budaya komunitas adat itu dipertahankan sejauh masih dirasakan manfaatnya bagi kehidupan anggota komunitas masing-masing. Ada yang masih kuat dihidupi, dijaga dan diwariskan. Namun, banyak yang sudah mulai punah dan ditinggalkan.
Ada banyak faktor penyebab internal, juga akibat pengaruh modernitas dari berbagai pihak dan faktor di luar komunitas. Itulah dinamika adat budaya, seperti dinamika kehidupan manusia dalam sejarah peradaban dunia.
Globalisasi diwarnai dengan kemudahan transportasi, informasi, dan berbagai sarana teknologi pendukungnya. Dunia menjadi seperti tanpa ruang dan tanpa batas.
Zaman milenial ini, pengaruh teknologi digital dengan sarana informasi canggih, semakin membuat relasi manusia tanpa jarak. Persaingan komunitas lokal dunia semakin dasyat, sehingga yang kalah akan hilang dan punah. Misalnya soal bahasa, tradisi ritual, tempat ritual, rumah adat, struktur dan bangunan kampung, alat perlengkapan rumah tangga, kesenian serta berbagai nilai dan prinsip kehidupan.
Ada juga kreasi dan inovasi yang diupayakan untuk kepentingan pragmatis zaman now. Misalnya, kegiatan di bidang pariwisata. Seni budaya dan kerajinan adat budaya bisa menjadi obyek pariwisata dan ekonomi kreatif.
Komunitas adat budaya harus memilih untuk beradaptasi serta belajar berubah, berkreasi, dan berinovasi. Proses ini memang tidak mudah, namun menantang pribadi maupun komunitas adat budaya tradisi untuk membuat keputusan. Yang paling tahu tentang adat budaya lokal adalah komunitas pemiliknya. Jadi, apa yang menjadi prinsip serta nilai, mana yang mau dan boleh diadaptasi kreasi, serta mana yang tidak boleh dan sakral, bisa dipertimbangkan.
Faktanya, demi mendapat manfaat ekonomi dari pariwisata dan ekonomi kreatif, ada banyak hal adat budaya tradisi ikut diubah dan berubah. Lalu, soal identitas jati diri serta identitas adat budaya komunitas, sering dilematis dan menjadi kabur. Ada akulturasi, inkulturasi, singkretisisasi, juga inovasi dan kreasi kultural, dengan berbagai alasan dan kepentingan.
Adat budaya lokal di tengah globalisasi dan zaman digital milenial menghadapi peluang dan tantangan. Kapasitas individu dan komunitas adat budaya lokal menjadi andalan. Perlu aksi, refleksi, dan aksi dalam dinamika budaya, demi harkat martabat kehidupan manusia pemilik adat budaya itu.

