“Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri” (1 Tim 6: 16a).
Kita tidak dapat melihat Allah dengan mata kepala, tapi melalui iman kita dapat merasakan kehadiran-Nya. Iman memampukan kita berjalan dalam kegelapan dunia. Tidak ada yang perlu ditakutkan atau dikhawatirkan. Allah lebih besar dari semua ketakutan kita. Jika kita percaya kepada-Nya, bahkan maut juga tidak dapat memisahkan kita dari kasih-Nya. Tidak ada yang dapat mengalahkan-Nya, bahkan kematian sekalipun. Kita percaya, bahwa Dia ada di Surga yang penuh dengan kemuliaan. Suatu hari nanti kita akan bersatu dengan-Nya untuk selamanya.
Hari ini kita memperingati St. Andreas Kim Taegon, Paulus Chong Hasang, dan para martir Korea. Mereka rela mati demi iman. Bagi mereka, kematian bukanlah sebuah kekalahan, melainkan sebuah kemenangan, karena mereka dapat memuliakan Tuhan lewat kesaksian hidupnya. Mereka seperti lilin yang menerangi kegelapan dan menunjukkan, bahwa kasih Tuhan lebih besar daripada ancaman dunia. St. Andreas Kim Taegon bahkan berkata sebelum kematiannya: “Kita diciptakan untuk kemuliaan Allah. Jangan takut, karena Tuhan akan menyambut kita di Surga.”
Marilah kita belajar dari keberanian para martir itu. Tuhan yang kita sembah adalah Raja semesta alam yang memerintah selama-lamanya.
Sr. M. Alexandra, P. Karm
Sabtu, 20 September 2025
1 Tim 6: 13-16 Mzm 100: 2-5 Luk 8: 4-15
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

