Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Setelah ia tahu, bahwa isi tas itu hanyalah batu-batu, maka dia pun mendengus muak dan meneruskan pidatonya.”
(Dari sikap seorang anggota parlemen)
Anggota Parlemen yang Buta Hati
Pata tahun 1982 seorang anggota parlemen bernama ‘Lambakey Okuk’ menyewa sebuah helikopter untuk membantunya dalam berkampanye. Dia bersiasat untuk menyasar jemaat Kristiani untuk mendengarkan pidato politiknya.
Dia berniat untuk berorasi di wilayah Kafle. Isi orasinya tentang garis-garis kebijaksanaan partainya. Di saat dia sedang asyik berorasi, m datanglah seorang Nyonya dan meletakkan sebuah tas tepat di dekat kakinya. Ia segera memungut tas itu, lalu dibuka tutupnya. Sungguh betapa kecewanya dia, setelah diketahui tas itu isinya hanya batu.
Padahal Nyonya itu utusan Tua-tua desa. Batu-batu itu, justru mau menyimbolkan ‘aneka permasalahan’ dari para penduduk desa itu agar dibahas di tingkat parlemen.
Ternyata, anggota parlemen itu ‘tidak memahami’ makna dari isyarat dalam wujud batu-batu itu.
Frank Mihalik
(1500 Cerita Bermakna)
Parlemen di Mana pun bak Setali Tiga Uang
Ternyata di belahan bumi mana pun dan kapan saja, anggota parlemen itu cenderung untuk bersikap tidak mau tahu, tidak acuh, tidak mau repot, alias sikap masa bodoh, karena mungkin saja, betapa tumpulnya nurani mereka. Mereka sering tidak mampu untuk menangkap sinyal dan isyarat berupa kebutuhan konkret dari warga masyarakat yang telah memilih mereka. Ya, sungguh sikap anggota parlemen itu bak setali tiga uang.
Bukankah pembusukan hidup bernegara dan berbangsa itu justru diawali oleh sikap tidak peka dan keangkuhan dari anggota parlemen dalam membaca keinginan warga masyarakat? Dalam konteks ini, sikap mereka ibarat ‘kacang yang melupakan kulitnya.’
Di saat musim berkampanye, mereka sangat rajin berkunjung dan bahkan rela bersujud di kaki para warga agar dirinya dipilih lewat ajang pemilu. Namun, setelah terpilih dan menang, mereka segera melupakannya. Fenomena khas model ini, bahkan sudah merupakan sebuah lagu lama.
Batu-batu Hidup Warga Masyarakat
Di belahan bumi mana saja dan kapan saja, ternyata rakyat memiliki aneka permasalahan hidup yang disimbolkan dalam wujud batu-batu yang sifat bawaannya memang keras dan kaku. Jadi, ternyata permasalahan hidup itu, senantiada keras dan kaku.
Refleksi
Semoga ke depan, warga masyarakat kita lebih cerdas dalam ajang pemilihan umum. Untuk tujuan itu, mereka tidak bersikap serampangan lagi dalam memilih “Lambakey-lambakey Okuk baru” yang ibarat memilih kucing-kucing liar dalam karung hitam.
Kediri, 20 September 2025

