Sikap Yesus terhadap perempuan berbeda dengan sikap para Nabi pada zaman-Nya. Lukas menyebut beberapa perempuan yang mendukung dan melayani pelayanan Yesus: Maria Magdalena, Yohana, Susana, dan banyak perempuan lain. Mereka melayani Tuhan dengan kekayaan mereka. Tentu saja mereka jadi pendengar dan pengikut setia Yesus.
Sikap hormat Yesus terhadap perempuan ini tampak dalam aneka pengajaran dan sikap-Nya, bahkan tampak dalam kebangkitan. Kita dapat membaca kisah Ibu mertua Petrus, wanita Samaria, perempuan Siro-Fenisia, dan anak Yairus. Bahkan, para wanita itu jadi saksi awal kebangkitan Yesus. Mereka bukan peran pendamping, melainkan peran utama dalam pewartaan kebangkitan Tuhan.
Peran serta perempuan di dalam hidup menggereja sama seperti peran laki-laki. Bedanya adalah jenis tanggung jawab yang mereka emban. Tidak ada peran rendah dan tidak ada peran yang lebih tinggi. Masing-masing dengan kekhasannya membangun iman dan Gereja. Keaktifan dan kesetiaan para perempuan bukan jadi saingan bagi keaktifan dan kesetiaan laki-laki, melainkan justru jadi partner yang baik.
“Ya, Yesus, Engkau mengajarkan kepada kami kesetaraan martabat laki-laki dan perempuan. Semoga dengan kekhasan masing-masing, kami mampu membangun Gereja-Mu jadi semakin hidup dan berkembang. Amin.”
Ziarah Batin

