Red-Joss.com – Seseorang yang mudah “merasa cukup” adalah tanda, bahwa orang itu dewasa imannya. Jika rasa cukup terhadap apa yang telah kita miliki itu besar, itu karena kasih Allah yang ingin kita hidup merdeka .
Sederhananya, jika kita bisa mengendalikan keinginan-keinginan yang mengitari hidup kita, maka kita sudah jadi kaya.
Merasa cukup itu membebaskan kita dari pasungan oleh keinginan – keinginan yang tidak berkesudahan.
Betapa berbahagianya suami-istri yang memiliki kekuatan mudah merasa cukup.
Suami yang mudah merasa cukup dengan apa yang Allah berikan pada keluarganya akan mudah pula bersyukur kepada-Nya.
Istri yang mudah merasa cukup akan terbentengi dari sifat rakus dan takkan mengingkari kebaikan Allah. Istri yang demikian akan jadi benteng tak mudah goyah bagi suaminya, sehingga tidak jatuh di lumpur dosa.
Paulus kepada para sahabat di Filipi juga mengatakan, bahwa merasa cukup itu adalah kekuatan: “Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.” (Filipi 4:11).
Faktanya, amat sangat tidak mudah untuk memiliki rasa cukup itu. Mudah sekali diucapkan, tapi tanpa daya dari Allah tak akan mencapainya. Sebab iblis akan selalu meniupkan rasa itu pada manusia, via nafsu memiliki kekuasaan, materi, seksualitas, yang terbungkus dalam bentuk rohani sekalipun.
Godaan itu nyata. Bahkan sudah dari awal manusia ini ada. Contohnya Eva atau Hawa. Dia terkecoh oleh “rasa tak cukup” (yang ditiupkan oleh iblis) di tengah-tengah kelimpahan Firdaus yang disediakan oleh Allah, sehingga Eva terseret arus nafsu yang begitu kuat untuk memenuhi keinginannya dan ikut menggulung suaminya, dan berdua terlempar dari Firdaus, tempat segala yang ada alias cukup.
Maka doanya: “libera nos amalo” – bebaskan kami dari yang jahat.
Tetap kuat menjadi tanda berkat.
…
Jlitheng

