“Kerahiman Allah bukan hanya mengampuni masa lalu kita, melainkan juga memanggil kita untuk hidup sebagai saksi kasih, iman, dan hikmat-Nya.”
Seorang wanita datang menangis di kaki Yesus, mencurahkan luka, cinta, dan syukurnya. Tidak seperti Simon orang Farisi, ia tidak datang untuk menguji, melainkan mempercayakan hidupnya yang hancur kepada-Nya. Dalam belas kasih-Nya, Ia menerimanya, mengampuni dosanya, dan memulihkan martabatnya.
Inilah kisah kami juga, anak-anak Tuhan yang datang dengan kerendahan hati. Seperti wanita itu, kami rindu dibebaskan. Kami mengakui, bahwa kesombongan sering membutakan kami, dan dosa-dosa membebani kami. Namun Tuhan tidak pernah menolak kami. Segala karya-Nya setia dan adil, kasih setia-Nya kekal selamanya, dan hikmat-Nya memanggil kami untuk kembali kepada-Mu.
Ajarlah kami, ya, Tuhan, untuk hidup seperti yang dinasihatkan Rasul Paulus kepada Timotius: “Jadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, iman, dan kesucian.”
Tuhan berkati hidup kami untuk memancarkan hikmat-Mu, supaya orang lain menemukan penghiburan di dalam Kristus.
Semoga kami tekun dalam doa dan pelayanan, sampai terang-Mu terpancar lewat hidup kami.
“Tuhan Yesus, tolonglah kami bukan hanya menerima belas kasih-Mu, melainkan juga membagikannya. Jadikan hidup kami cermin kasih, bukan penghakiman; cermin kerahiman, bukan sikap acuh. Semoga kami berjalan rendah hati dalam kebenaran-Mu, dan bersukacita karena kami adalah anak-anak-Mu yang sudah Kau ampuni. Amin.”
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

