Sahabat itu berkat yang dikirim oleh Tuhan. Kita bisa berjumpa, tanpa direncanakan. Kita bisa berbagi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Kita bisa saling meneguhkan, tanpa ada yang merasa lebih pandai, baik, benar, dan lebih suci. Karena kita semua sedang berziarah di tengah dunia ini.
Sahabat itu tidak ditentukan oleh waktu. Ada yang baru mengenal sebulan, tapi merasa dekat. Empat bulan lalu, merasa akrab. Setahun lalu, menemukan pribadi yang hangat. Juga ada yang sudah mengenal bertahun-tahun akrab bersahabat. Setiap sahabat itu mempunyai cerita yang istimewa.
Bersama sahabat, jika terjadi kesalahpahaman itu harus segera dikomunikasikan. Terjadi salah pengertian, jangan malu untuk minta penjelasan. Ada kecurigaan, jangan menunggu hingga hilang kepercayaan. Jika timbul konflik, jangan melarikan diri tanpa ada pendamaian. Juga jika ada perasaan tidak suka, jangan disimpan terus dan jadi racun kehidupan. Setiap dari kita harus bisa menyelesaikan persoalan itu. Karena tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan.
Persahabatan itu akan ditentukan oleh kata-kata, sikap, perilaku, dan keyakinan kita. Jika bersahabat, maka sikap kita baik kepada yang lain. Kita berperilaku yang baik, sebab yakin, kita bisa berjalan dalam menghadapi dan melewati permasalahan itu bersama-sama.
Saat ini aku sungguh bersyukur dan berterima kasih pada sahabat-sahabat yang membuat hidupku jadi indah, penuh warna, dan makna.
Semoga, aku tetap jadi sahabat yang baik untuk semuanya. “Welcome to my heart” selamanya. Supaya kita dikenang sebagai sahabat. Setuju?
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

