Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Salah satu bagian penting dari warisan masyarakat adat budaya adalah ritual adat. Cara pewarisannya lebih sering secara lisan, dengan pelaksanaan ritual adat oleh para tokoh adat, dan ada juga yang melengkapi dengan tulisan.
Zaman sekarang, ada lagi media digital yang bisa merekam dan mempublikasikan ritual adat tersebut. Pelaksanaan dan keberlajutan ritual adat budaya ini, nasibnya berbeda-beda di setiap komunitas adat budaya dan kampung adat.
Pengalaman pribadi sejak kecil dengan para tokoh adat kampung maupun dalam keluarga, saya temukan, bahwa sangat jarang dijelaskan arti dari materi dan simbol ritual, tahapan ritual serta makna dari keseluruhan ritual tersebut. Ada ritual adat sehubungan dengan daur hidup. Misalnya pernikahan, kehamilan, kelahiran, masa remaja dan kematian. Ada ritual sehubungan dengan pekerjaan mengelola alam, penyelesaian kasus publik, tolak bala bencana, dan juga ritual penyelesaian kasus sosial.
Kesan saya hingga saat ini, ada banyak yang mengikuti ritual adat, karena hormat dan takut. Sayangnya, tidak ada proses penjelasan khusus kepada komunitas dan generasi muda, oleh para tokoh adat pelaksana ritual itu.
Bagi yang mau mengetahui, harus berjuang bertanya pada saat di luar pelaksanaan ritual adat tersebut. Ketika saya bertanya soal makna ritual, ungkapan bahasa adat ritual, juga tata caranya ritual, maka jawaban yang paling sering saya dapatkan adalah “kami hanya teruskan apa yang dibuat oleh pendahulu, para leluhur, dan sudah begitu adanya”. Bahkan ada yang menjawab, bahwa dilarang bertanya tentang ritual, nanti para leluhur marah. Ini adalah hal sakral, jadi harus ikut saja ritualnya dan jangan banyak bertanya. Hal ritual akan diwariskan secara sakral dan ada petunjuk leluhur kepada yang terpilih secara adat.
Fakta zaman now, dengan berbagai faktor yang berubah, maka semakin jarang dilaksanakan ritual adat. Beberapa hal berubah dalam komunitas adat. Misalnya, struktur kampung berubah, karena ada jalan raya dan fasilitas modern, tugas dan kewenangan tokoh adat semakin kabur, tempat ritual tidak terawat atau hilang. Selain itu ada pangkat jabatan baru kepada tokoh adat dari lembaga agama maupun pemerintah, ada juga lembaga adat dalam pemerintahan desa, dan masih banyak faktor perubahan lain.
Timbul pertanyaan reflektif, ketika saya membandingkan dengan apa yang terjadi di komunitas adat yang masih terjaga, misalnya di masyarakat adat Bali, Toraja, Batak dan Dayak. Di Bali misalnya, ketika jadi daerah pariwisata internasional, justru ritual adat budaya tetap dipertahankan. Bahkan wisatawan harus ikut aturan ritual adat setempat. Misalnya ritual adat saat Nyepi, maka penerbangan pun stop selama hari raya ini.
Masih ada contoh lain seperti di Dayak dan Toraja, misalnya ritual kematian dan pengelolaan alam lingkungan.
Hemat saya, sehubungan dengan pewarisan dan pelestarian ritual adat budaya di setiap komunitas adat budaya, “sangat tergantung dari masyarakat adat pemiliknya.” Apakah masih dibutuhkan atau tidak, apakah dirasakan berguna atau tidak, dan ada metode pewarisan dan pelestariannya. Semacam pusat pendidikan adat komunitas, selain pengalaman langsung saat pelaksanaan berbagai ritual adat, karena kehadiran anggota komunitas dan generasi muda. Juga ada contoh dalam keluarga. Misalnya dalam adat Batak, orangtua dan suku mempunyai kewajiban mengajarkan dan menggunakan bahasa Batak dalam relasi dengan anak cucu, selain diharuskan memakai nama suku sebagai identitas.
Bagaimana nasib ritual adat dalam komunitas adat budaya kita masing-masing? Apakah masih dibutuhkan dan dialami bermanfaat bagi kehidupan? Kalau bukan kita yang menjawab, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, ya kapan lagi?
Sempat terpikir dan ada kecemasan, bahwa jangan sampai nasib ritual adat itu terjadi juga dalam ritual keagamaan. Ada yang ikut hanya karena hormat dan takut, tapi tidak tahu maknanya, tidak berani bertanya bahkan tidak mau tahu. Pokoknya, ikut saja sejauh demi pengamanan relasi sosial pribadi.

