Simply da Flores
1.
Dari warung kopi pinggir trotoar
langkah senja terlihat jelas
Memeluk lelah pikiran galau
Menggandeng penat tangan letih
Menopang goyah telapak perjuangan
Ribuan insan jutaan manusia
di metropolitan hingga kampung udik
Mereka yang di tapal batas negeri
Mereka yang terluar dari pusat
Mereka yang termiskin diinjak korupsi
Mereka yang terpinggirkan kebijakan dan ketamakan
Mereka yang tersisih selera dan gengsi zaman
Mereka yang bersuara menggugat
tetapi tidak didengar lalu terbuang dan dibungkam
Terbawa arus samudra ke tubir gulita hampa
dalam putaran kejinya roda zaman menggilas
2.
Aroma kopi panas menggoda
coba aku seruput pahit nikmatnya
karena kebenaran memang getir rasanya
Hitam pekat aku aduk perlahan
Panasnya nasib hidup berpelukan dengan sari harkat dan ampas harapan
Hitamnya kopi fakta ampera bukan kejahatan
Para penjual yang menyajikan
hanya ingin pilih remah rezeki
Para buruh pabrik yang kerjakan
juga gantungkan nasib di sana
Para petani di kebun ladang
tak pernah tentukan harga kopinya
terpaksa terima keputusan kelam barangnya
Karena keluarga perlu sembako
yang harganya makin mahal di pasar
Sedikit aku coba tambahkan gula
agar lengkap rasakan nasib para petani
3.
Deru mesin dan putaran nasib
berjibaku dalam irama relasi kepentingan
dikendalikan energi kata dan angka
Jurang makin lebar kelam menganga
Antara hitamnya nasib rakyat dan kekuasaan
Antara harkat martabat dan ketamakan selera
Antara getir kepenatan dan pesta pora kekayaan
Antara semboyan kedaulatan dan manipulasi kekuasaan
Antara kampung udik dan kemewahan kota modern
Antara warisan luhur tradisi
dan gemerlap dinamika perubahan zaman
Warung kopi semakin remang
diterpa gemerlap lampu kemajuan
dan kilau digital milenial dunia maya
4.
Irama senja dan nikmati kopi
perlahan sirna dihalau hingar bingar metropolitan
Cahaya mentari ditepis warna-warni lampu kota
Senja jadi batas bayangan
teriknya siang yang membakar
dan gulita malam penuh tanya
Kehidupan modern pemuas selera
mengubah zaman dengan energi digital
Kata dan angka berkuasa penuh daya
Pesona senja dan aroma kopi
sejenak melerai penat dan samar memberi harapan
Malam ini ada bintang dan juga purnama
besok pasti datang fajar harapan
Demikian rindu damba doa sahaja
dari lara nestapa ketakberdayaan
jutaan rakyat orang-orang terlantar
5.
Pengalaman mendeklarasikan amanat penderitaan
Ada ribuan orang galau putus asa
Ada jutaan orang miskin lara menderita
Ada yang terpinggir dan tertindas
Ada yang melarat terlunta dan mati
Ada yang meraja dan tergusur
dari kelimpahan warisan kekayaan alamnya
Keadilan dan kebenaran seperti utopi dan candu
Kenyataan tidak selalu sesuai harapan
Tanya nurani sanubari rakyat
tidak selalu mendapat jawaban
akan hadirnya fakta kebenaran dan keadilan
Bahkan sumpah janji atas nama Tuhan
hanya jadi ampas hitam kopi
untuk disisakan dan jadi sampah dibuang
Apakah harkat martabat adalah senja dan gulita
Adakah kebenaran dan keadilan
adalah pahit dan hitamnya kopi
Apakah nilai hakiki dan Tuhan sudah jadi sampah?

