“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup kekal” (Yoh 3: 14-15).
Orang Katolik sungguh aneh. Kita memajang sebuah alat penyiksaan di rumah kita dan mengenakannya sebagai perhiasan, bahkan lengkap dengan mayatnya. Memajang salib itu tidak ada bedanya dengan memajang tali gantungan atau pisau pancungan.
Sesungguhnya, apa yang dilihat, ketika kita melihat salib? Kita melihat akibat dari dosa kita. Kita menyadari ada yang tidak beres dengan hidup dan masyarakat kita. Kita menyadari, bahwa kitalah yang telah membunuh Tuhan, dan padahal seharusnya kita yang dihukum.
Ada seorang pengusaha sukses memajang cangkul karatan peninggalan Ayahnya di kantornya agar setiap kali memandangnya, ia teringat dengan jerih payah Ayahnya membanting tulang di ladang. Sehingga ia bisa bersekolah dan sukses.
Demikian pula, ketika memandang salib, kita hendaknya menyadari segala yang telah dilakukan oleh Tuhan untuk menyelamatkan kita.
Kita diajak untuk mengingat dan menyadari harga yang telah dibayar oleh Tuhan agar kita selamat. Dengan demikian, kita akan terdorong untuk tidak menyia-nyiakan pengorbanan Tuhan dengan bertobat dan berusaha hidup kudus dengan meneladani Yesus yang telah merendahkan diri sehabis-habisnya, karena cinta.
…
Fr. Paulus, CSE
Minggu, 14 September 2025
Bil 21: 4-9 Mzm 78: 1-2.34-38 Flp 2: 6-11 Yoh 3: 13-17
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com

