Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Anda hanyalah sebatang Pensil di tangan Pemiliknya.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Sebatang Pensil dan Kita
‘Kita’, yakni Anda pun saya, dan juga mereka, secara filosofis sejatinya, hanyalah ibarat sebatang Pensil di tangan Sang Pencipta.
Jika memang ini sungguh demikian adanya, ketika kita kian intens merenungkan hal keberadaan kita di bumi ini. Apakah arti dan makna terdalam dari totalitas keberadaan kita di jagad hidup ini?
“Siapakah kami ini? Siapakah yang telah menciptakan kami? Kelak kami hendak ke mana?”
Sesungguhnya, apa makna dan arti dari totalitas keberadaan kita? Apakah hanya sekadar mencari nafkah demi mengenyangkan perut lapar? Untuk menyulamkan renda-renda hiasan tubuh jasmani kami? Ataukah sekadar mengejar sebuah kursi empuk demi menyamankan raga fana ini?
Meskipun kami sungguh tahu dan memahami, bahwa semuanya itu, akhirnya hanya ibarat fatamorgana belaka dan sebaris mimpi malam?
Kita diciptakan Sang Maha Sempurna dan jadi manusia, pria dan wanita. Bahkan kita telah diciptakan dari debu dan tanah sesuai Gambar dan Rupa-Nya. Ya, sesuai citra dari Sang Maha Sempurna itu.
Ingatlah Kamu hanyalah Debu dan Tanah
Sadarlah selalu, bahwa kita ini diciptakan hanya dari debu dan tanah. Juga nyatanya, kita ini sangat rapuh dan merana. ‘Errare humanum est’, lemah dan tidak berdaya, itulah keberadaan seorang manusia, menurut orang Latin.
Sebatang Pensil pun Dilengkapi Peruncing dan Penghapus
‘Deo Gratias’; syukur kepada, Tuhan! Sepantasnya, kita bersyukur kepada Tuhan. Karena Tuhan sungguh peduli atas keberadaan kita yang lemah ini. Sehingga kita yang tidak berdaya dilengkapi-Nya dengan sarana pendukung dan peneguh hidup.
Ibarat sebatang Pensil, kita dilengkapi-Nya dengan sarana berupa: peruncing dan penghapus. Karena Ia sungguh tahu, bahwa kesejatiannya kita ini.
Bukankah di dalam kehidupan ini, kita sering jadi tumpul? Jika sebatang Pensil itu sudah menumpul, apakah faedahnya? Jika mata Pensil itu salah menggores sebuah kata atau kalimat, maka dibutuhkan sarana penghapus, bukan?
Dalam konteks ini, sepatutnya kita bersyukur atas keberadaan kita. Tuhan telah melengkapi hidup kita dengan aneka sarana penyempurna dan keseimbangan diri. Bukankah kita dilengkapi-Nya pula dengan alat indera, hati nurani, dan akal budi?
Konklusi
Jika kita sungguh mau merenungkan, makna sejati dari hidup ini, maka sesungguhnya, kita ini ibarat sebatang Piensil juga.
Bersyukurlah senantiasa atas keberadaan kita!
Kediri, 10 September 2025

