Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bekas-bekas kaki itu pun tak dapat lenyap, karena ia tertanam sungguh dalam di dasar bumi ini.”
(Didaktika Hidup Bermakna)
Ujung Sebuah Ziarah
Ziarah hidup ini akan berakhir pada suatu saat nanti. Saat khusus itu, entah kapan akan berakhir, dan tidak seorang pun yang tahu.
Tampak di balik bayangan fatamorgana, seorang pria tua dengan sebatang tongkat yang dipegang erat. Ia tampak terhuyung dan tertatih terlunta menuju ke arah kaki langit senja. Ia berjalan tanpa sekalipun menoleh.
Ternyata, ia sudah muak menghadapi sebuah realitas hariannya yang menguras energi batin ini. Kini ia tidak sudi untuk menoleh lagi. Ia mau fokus pada akhir ziarah hidupnya. Karena ia sadar dan tahu, ke mana arah perjalanan ziarahnya.
Ada Bekas Kaki di Pasir
Sementara itu, ia terus bergulat dalam pikirannya, “Bekas kaki siapakah yang tampak tergambar di atas pasir ini?” Tak ada sahutan. Tak ada suara balasan atas tanyanya. Tapi ia tidak kecewa.
Tidak lama berselang, ia tersandar di tumpukan gunungan pasir. Dalam hening itu, ia bermimpi melihat seseorang yang sedang asyik mencuci kakinya di pinggir oase gurun. Ia angkat bicara, “Siapakah engkau?”
Mendengar suara tanya itu, tampak pria asing itu sambil memandang wajahnya dan balik bertanya, “Hai, kamu itu siapa?”
“Saya pria pengelana yang sedang beranjak ke kaki langit.”
“Oh ya, jika demikian, berarti kita ini sama-sama sebagai pengembara.”
“Tapi, aku ingin tahu, Tuan, bekas kaki siapakah yang tergambar jelas di atas pasir pantai ini?”
“Ya, aku pun tak tahu.”
Keduanya, walaupun dalam jarak yang jauh berbeda, tapi masih terus melangkah. Sesaat, ketika ia membuka matanya, tampak seorang berjubah hitam sedang duduk termenung di sampingnya.
Siapa Sejatinya Pria Berjubah Hitam itu
Kini, sambil memandang tajam padanya, pria berjubah hitam itu berbisik padanya, “Itu bekas kakimu sendiri, dan bekas-bekas kakimu itu tidak akan terhapus sebelum engkau tiba di ujung kaki langit di kala senja tiba nanti.”
Mendengar sahutan yang terkesan aneh itu, ia tidak dapat mempercayainya. Pikirnya, bagaimana mungkin, itu gambar bekas-bekas kakiku, karena sebelumnya aku belum pernah melintasi di atas guru pasir itu.
Dalam hening itu, terdengar sahutan pria berjubah hitam, “Saudara, engkau sudah sangat sering melintasi gurun itu, walaupun hanya lewat imajinasi jiwa rapuhmu. Aku sungguh tahu, betapa sering engkau melintasi gurun karang nan kersang ini.”
“Karena kala itu, betapa kuat dan dalamnya rindu dan harapanmu kepada semesta untuk boleh merengkuh sari-sari kebahagiaan hidup, maka bekas-bekas kakimu itu masih terus tergambar di atas pasir ini.”
Kesadaran Manusia itu Rapuh
Mendengar sahutan yang sungguh meyakinkan itu, ia mulai mempercayai ocehan tulus dari pria berjubah hitam itu.
Tapi sejujurnya hingga kini ia masih terus bergulat dengan dirinya, “Siapakah sesungguhnya, pria berjubah hitam itu?”
Refleksi Akhir
Ingatlah, sesungguhnya, kita ini tidak pernah benar-benar seorang diri di gurun pasir kehidupan ini!
Kediri, 8 September 2025

