Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com – Tanggal 12 Desember 1992 terjadi Gempa dan Tsunami di pulau Flores. Sekarang diperingati genap 30 tahun yang lalu tragedi bencana alam itu.
Wilayah Maumere – Kabupaten Sikka adalah tempat yang paling berdampak. Korban nyawa dan kerusakan material mengerikan. Ada monumen tsunami di tengah kota, ada kenangan setiap keluarga karena sanak kerabatnya meninggal, ada yang cacat fisiknya terbawa di badan, yang lain mengenang puing rumah yang membekas. Ada aneka cerita tentang tragedi tsnumi, ada yang sengaja melupakan, karena trauma. Ada kenangan sebagai relawan kemanusiaan yang ikut meringankan derita korban.
Beberapa hari ini ada kegiatan yang berkaitan dengan memoar 30 tragedi bencana tsunami itu. Mahasiswa dan dosen Program studi teknik di Kampus UNIPA membuat diskusi sehubungan dengan konstruksi bangunan untuk daerah yang berpotensi gempa. Ada yang membuat lukisan memoar tragedi. Ada kelompok generasi muda kota Maimere yang membuat pentas seni dan bazar mengenang tragedi 30 tahun lalu itu.
Sebuah upaya memberi makna terhadap pengalaman tragis dalam sejarah kehidupan. Musibah bencana alam memang menggentarkan, namun bagi yang hidup, ada juga makna dan pelajaran yang bisa disimak.
Tentang tragedi bencana serupa, terjadi juga di Aceh, gempa dan tsunami. Masih ada deretan bencana alam lain, yang mengisahkan trauma dan kenangan pahit di berbagai daerah di tanah air Indonesia. Yang terakhir, erupsi gunung Semeru yang “berulang tahun”, 4 Desember 2021 dan 4 Desember 2022. Misteri alam semesta.
Dalam upaya memberi makna, yang biasa disebut adalah bencana alam. Namun, ketika dipikir lebih jaun dalam totalitas semesta, ada hukum alam. Kejadian alam itu bisa diberi nama lain. Misalnya, kejadian alam adalah ‘misteri semesta’, karena tidak ada penjelasan tuntas secara rasional. Ada yang mengatakan bahwa kejadian tragis alam itu adalah “bersih bumi” oleh Sang Pemilik Semesta, karena tindakan manusia yang merusak ekosistem alam lingkungan. Ada reaksi alam lingkungan, justru atas “bencana kemanusiaan” yang ditorehkan pilihan manusia di atas bumi, demi harmoni ciptaan.
Kejadian alam yang dasyat, lalu disebut bencana alam oleh manusia, ternyata bisa dimaknai dari beberapa sudut pandang. Manusia yang hidup, berjuang menemukan makna hakikat dirinya di hadapan sesama, di tengah alam lingkungan dan jagat semesta, serta dalam relasinya dengan Sang Pencipta alam semesta – Sang Hyang Maha Misteri.
“Adakah syukur, bahwa kita masih diberi waktu untuk bernafas dan hidup?”
Ternyata, keistimewaan akal budi manusia, tidak menghilangkan ketergantungan mutlak kita pada alam lingkungan di jagat semesta ini dan Sang Pencipta.

