“Apa yang kita minta setiap hari pada Tuhan?”
Kesetiaan iman, kesehatan, hidup bahagia, dan rezeki yang cukup. Apakah itu langsung kita dapatkan? Tidak! Kita harus rajin berdoa, menjaga kesehatan, berdamai dengan siapa saja, dan kita harus bekerja. Di balik usaha itu, kita harus meminta rahmat kebijaksanaan, sebab yang membuat hal-hal di atas itu terjadi, karena kita yang memutuskan. Kebijaksanaan itu hanya dimiliki oleh Tuhan …
Pertama, “Manusia manakah dapat mengenal Allah?” (Kebijaksanaan Salomo 9: 13). Bagaimana jalan kita mengenal Allah? Unik dan istimewa ya. Bersyukurlah!
Kedua, “Siapa gerangan yang dapat mengenal kehendak Tuhan, jika Dia tidak menganugerahkan kebijaksanaan, dan Roh Kudus tidak diutus-Nya?” (Kebijaksanaan Salomo 9:17). Benar-benar kita ini sudah dipilih oleh Tuhan untuk mengenal, beriman dan mengikuti-Nya dengan setia. Bersyukurlah!
Lalu, apa yang terjadi setiap hari, khususnya pada hari Minggu, ketika kita pergi ke Gereja dan hadir dalam perayaan Ekaristi. Kita melihat saudara-saudari seiman yang berjuang juga untuk setia dalam mengikuti Tuhan Yesus. Buktinya, mereka datang ke Gereja. Itulah yang disebut Santo Paulus “sebagai saudara terkasih” (Filemon 16). Suatu saat, satu dari antara mereka akan saling membantu saat kita membutuhkan pertolongan, “who knows?”
Tantangan beriman di zaman ini tidak mudah. Baik yang berasal dari dalam dan luar diri ini, sehingga kita harus bersikap tegas dan fokus untuk mengikuti-Nya.
Meskipun, “… berduyun-duyun mengikuti Tuhan Yesus” (Lukas 15: 25), termasuk kita ini. Tapi belum semua murid berjalannya mantab hati. Apalagi, ketika kita mendengar firman-Nya ini, “Jika seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci Bapanya, Ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat jadi murid-Ku” (Lukas 14:26). Tantangan yang tidak main-main. Sehingga kita harus serius dan tegas dalam mengambil keputusan itu.
Sebab, yang kemudian dijalani itu bukannya makin ringan, melainkan kian menantang, “Barangsiapa tidak memanggul salibnya dan mengikuti Aku, ia tidak dapat jadi muridKu” (Lukas 25: 27).
Coba resapi dan maknai arti kesetiaan ini:
Suatu kali ada seorang Imam muda bertanya, “Apa arti dari kesetiaan?” Karena yang ditanya adalah saya, maka saya jawab, “Kesetiaan itu hanya bisa dilihat pada Salib. Di sana ada seorang pribadi yang setia. Dialah yang saya dan kamu ikuti saat ini. Tidak perlu dijelaskan!”
Kesetiaan itu dijalani dan dirasakan setiap hari agar kita benar-benar mengandalkan Tuhan dalam hidup ini. Sebab, segala sesuatu yang kita miliki, melekat, genggam, simpan, dan dibanggakan itu semuanya akan kita lepaskan. Akhirnya, kita hanya berjalan dengan Tuhan Yesus, “Demikianlah setiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan diri dari segala miliknya, tidak dapat jadi murid-Ku” (Lukas 15:33).
Sekarang juga, tunduklah di hadapan Tuhan Yesus dan berdoa, “Tuhan Yesus, layakkanlah diriku untuk jadi murid-Mu yang setia. Tidak ada yang kuandalkan selain Engkau. Seperti Bunda Maria, dari lahir hingga akhir hidupnya, tetap setia. Amin.”
Rm. Petrus Santoso SCJ

