Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sungguh, berbahagialah dia yang mengalami dan dibesarkan lewat suatu ajang penderitaan.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Sekolah yang Terbaik
Di suatu hari, kepada seseorang diajukan sebuah pertanyaan yang sungguh menantang, bahwa “Sekolah apakah yang terbaik di dunia?”
Maka, dia segera menyahutinya, bahwa “Sekolah yang terbaik di dunia ini adalah sekolah penderitaan.”
Ketika ditanya balik, “Apa landasan serta esensinya?”
Maka, lewat intonasi yang paling ketus dan santai, dijawabnya, “Karena sikap berempati itu tidak bisa diajarkan. Ia hanya terlahir dari sebuah pengalaman akan penderitaan.”
Karena ingatlah, “bagaimana mungkin seseorang bisa berbicara menggunakan hati, jika ia tidak pernah mengalami suatu penderitaan?” Ironis, bukan?
Vitalnya ‘Kecerdasan Emosi’ (Emotional Quotient)
Bertolak dari landasan pemikiran dan permenungan reflektif ini, maka dalam konteks ini, sungguh, betapa pentingnya aspek “kecerdasan emosi itu untuk dihayati.”
Kecerdasan emosional (Emotional Quotient): adalah kemampuan untuk mengenali, memahami, mengelola, dan memanfaatkan diri sendiri dan orang lain demi membangun sebuah relasi ideal.
Hal ini bertolak dari sebuah fakta hidup manusia, bahwa betapa sulitnya kita menjumpai sosok pribadi yang sungguh-sungguh kaya secara emosi. Dalam kerangka berpikir ini dapat disimpulkan, bahwa hal ini dapat terjadi, karena kita tidak hidup dalam suasana penderitaan. Bukankah, hanya lewat ajang penderitaan, seseorang itu dapat berempati terhadap sesama yang menderita?
Marilah kita memasuki sebuah sekolah penderitaan agar dapat memahami dan menghayati, apa arti dan makna sejati dari sebuah penderitaan itu.
Kini kian sadarlah kita, bahwa bukankah sebuah pengalaman hidup adalah sang guru yang terbaik bagi kita?
Konklusi
Kita baru dapat jadi seorang manusia sejati, justru tatkala kita sanggup bersimpati dan berempati kepada sesama yang menderita.
Kediri, 7 September 2025

