Banyak hal yang ‘diatur’. Tujuannya adalah supaya semuanya itu bisa berjalan dengan teratur.
Ada aturan yang bisa dijalani, tapi ada aturan yang tidak bisa dijalani. Misalnya, aturan itu tidak terkait langsung dengan profesi dan hidup kita.
Ada aturan-aturan yang mudah untuk dipenuhi, tapi ada juga aturan yang sulit untuk dipenuhi. Misalnya, aturan dalam agama dan keyakinan masing-masing. Banyak aturan yang belum kita penuhi. Bahkan mungkin ada yang tidak diketahui dan dipahami.
Ada aturan yang mudah dilanggar, tapi ada aturan yang berbahaya, jika dilanggar, karena konsekuensinya berat. Misalnya yang sering dilanggar adalah lampu lalu-lintas. Yang berbahaya untuk dilanggar adalah, jika kita membawa narkotika.
Masih ada banyak aturan yang dibuat sendiri dan tujuannya agar hidup ini teratur, dimudahkan dalam hidup dan bekerja. Kalau dilanggar, kita malu dengan diri sendiri.
Ribet dengan banyak aturan? Tapi mau bagaimana, karena hal itu realitas. Kita ini belum bisa hidup tanpa diatur. Belum lagi sekarang dengan tambahan dipasangnya kamera (CCTV). Sehingga ruang pribadi kita jadi ‘terbatas’.
Belum bisa disimpulkan, apakah hidup ini tidak perlu adanya banyak aturan? Buktinya masih banyak aturan! Mau dikatakan ribet, ya, memang ribet.
Untuk itu kita belajar supaya hidup ini tidak dibatasi dengan aturan saja. Dilihat juga sisi yang lain, bahwa kita bisa berbuat baik, tanpa diatur terlebih dulu, tapi panggilan hati nurani dan kebutuhan yang mendesak. Yang penting adalah semua itu bisa dipertanggung-jawabkan kepada Tuhan. Misalnya, ketika membantu orang miskin dan terlantar itu tidak perlu diatur, bukan?
Ketika kita ingin berdoa secara pribadi dan menyembah-Nya. Atau kita mendoakan mereka yang sakit.
Banyak hal baik yang bisa kita lakukan, tanpa dibatasi oleh aturan, tetapi spontanitas dari hati yang baik.
Hal-hal seperti ini tidak ribet, tapi bisa memuaskan batin ini, dan bahagia!
Rm. Petrus Santoso SCJ

