Simply da Flores
1.
Satu lilin bernyala di tanganku
memang tidak gampang hidup dan dijaga aman
di tengah ruang terbuka gelap gulita
Memang tidak mampu menghalau pekat kelam realita
Memang seperti tak berarti sebagai solusi
Mungkin angin badai meniupnya mati
Mungkin kaki terantuk lalu terjatuh
Tapi pasti aku sudah berjuang menyala
bukan bertanya dan menggugat gulita
Memang hanya nyala satu lilin
Tetapi…
ada fakta kecil dan bisa banyak manfaat
Mungkin bisa terangi mata mengatur langkahku
Mungkin mampu biaskan cahaya menyatakan ada aku
Mungkin bisa memberi tanda bagi yang lain
Bahwa aku tidak mengutuk kegelapan tanpa berbuat apa-apa
Aku mengandalkan kuasa Sang Pencipta
2.
Dan…
Seorang Raja menyalakan lilin kesahajaannya
membawa hati kemanusiaan menemui rakyatnya
Yang sedang dibakar api amarah
Yang sedang gelap dicengkraman asap esmosi
Cahaya kecil lilin solidaritas Sang Raja
mampu halau amarah dan kegelapan emosi warganya
Lalu mereka bersama satu nafas
larut dalam letih berbeban berat
Hadir bersama sebagai sesama saudara
Dengan satu nyala lilin pribadinya
Seorang Pemimpin hadir dan padukan tekad hentikan kejahatan
Berdiri bersama menggugat ketamakan
Tanpa harus merusak harkat martabat
Bukan dengan anarki dan kekerasan emosi
Tetapi dengan keteguhan prinsip
dan kesantunan cara bermartabat
“Mengatasi masalah tanpa menciptakan masalah
yang pada gilirannya akan menambah penderitaan
Sebuah lilin doa dan amal nyata Sang Pemimpin”
3.
Sepuluh lilin bernyala di rumah kita
memang tidak selalu gampang dihadirkan
karena aneka pribadi yang berbeda-beda
karena desakan kebutuhan sosial ekonomi
karena tuntutan lingkungan masyarakat dan gaya zaman
karena tagihan berbagai lembaga dan pihak
Terang dalam keluarga penuh tantangan
Nyala lilin keluarga sangat dibutuhkan
Sejarah peradaban mewariskan pengalaman
Bibit bobot bebet bersumber dari keluarga
Prinsip nilai dan kemampuan pribadi diwariskan keluarga
Iman dan khasanah spiritual juga dari keluarga
Sang Pencipta menghadirkan pribadi dan bangsa melalui keluarga
4.
Sejatinya semua pasti alami
Kita datang dari keluarga
Kita hidup di tengah keluarga
Kita ada dan jadi bersama keluarga
Kita pulang pun di antar keluarga
Kita sungguh makhluk sosial
Maka mati hidupnya lilin pribadi
sungguh bersumber dalam keluarga
Bangsa ini diukur dari kualitas kesejahteraan keluarga
Tidak seorang pun jadi lilin
dari dirinya sendiri tanpa keluarga
Sehingga
ketika sepuluh lilin bernyala di keluarga
Cahayanya menerangi kehidupan rumah tangga
Biasnya menyinari tetangga dan lingkungan sekitarnya
Menghalau kegelapan hidup bukan dengan kata-kata
tetapi cahaya karya bakti diri dan keluarga
Nyala lilin keluarga sedang dipudarkan zaman
5.
Seratus lilin bernyala di komunitas kita
Entah itu komunitas suku adat budaya
yang saling menghormati dengan kasih persaudaraan
Entah itu komunitas kampung halaman
yang rukun damai saling menjaga
Entah itu komunitas kerja
karena saling membutuhkan dan melengkapi
demi menjamin hasil dan mendapat manfaat
Entah itu komunitas kepercayaan dan iman se-agama
untuk saling menguatkan dan mengamalkan sujud doanya
Nyala seratus lilin itu
pasti tidak pernah tersembunyi dalam gulita kegelapan zaman
Sinar cahaya lilin itu
tak mungkin tidak kelihatan di antara sesama
Dinamika kehidupan harmonis sebuah komunitas
jadi cahaya di tengah masyarakat
dan terang di pelataran ziarah zaman
Ketika Sang Ilahi diandalkan
sebagai sumber kekuatan dan kehidupan
6.
Zaman silih berganti berubah
lahirkan aneka tantangan dan sejuta cobaan
Banyak lilin mati tertiup badai
Ada lilin yang digerogoti binatang buas tamak
Ada lilin yang pudar dihalau serangga
Aneka sumber penerang menyingkirkan lilin tradisi luhur
Ikatan persaudaraan dan kekerabatan pudar dan sirna
Induvidualisme dan hedonisme menguasai nafsu pribadi
Antar generasi saling mengalahkan dan berseteru
Sekat ruang tradisi budaya, moral dan iman terbongkar
Kebebasan jadi kebablasan
ketamakan ajarkan saling memakan
Maka cahaya seratus lilin pudar
menggugat kembali solidaritas persaudaraan
dan harkat martabat kemanusiaan
Masihkah cahaya kasih persaudaraan dan kemanusiaan membias?
7.
Seribu lilin bernyala untuk bangsa kita
di tengah hitam pekat asap masalah
di antara bara api kemarahan nyala berkobar
yang bergelolara di tanah air Indonesia
Tetapi ada demonstrasi cahaya 1000 lilin
Ada kerendahan hati bergandeng tangan
Ada kesadaran nurani saling membutuhkan
Ada secercah iman sujud berdoa
Ada kerelaan bersatu padu
kembali ke hakikat pribadi manusia
Mengandalkan kuasa rahmat Sang Pencipta
Barisan rakyat yang lara menderita
menjelma dalam nyala 1000 lilin
Bersama sujud memohon pertolongan Ilahi
untuk melerai problema dan memberikan solusi
bagi persoalan bangsa dan kedamaian NKRI
Nyala lilin doa-doa sahaja
Pijar cahaya permohonan dan sujud sembah
“Ampuni salah dosa kami, ya Allah
Tolong selamatkan bangsa kami”
8.
Kepada nyala seribu lilin
ada sejuta tanya menggugat
Bisakah nyala lilin membakar ketamakan para koruptor
Mampukah secercah cahaya menghalau kegelapan nurani jiwa para penguasa rakus
Apakah doa sahaja segelintir rakyat
bisa menyadarkan para pecundang bangsa
yang terbiasa mengucapkan sumpah janji palsu
yang tidak takut menyebut nama Allah untuk korupsi dan menjajah bangsa sendiri?
Jangan sampai demonstrasi 1000 lilin
adalah bukti ketakutan kepada para koruptor dan penjahat bangsa
Apakah doa bisa mengatasi masalah bangsa?
Dan faktanya
cahaya 1000 lilin itu telah menguap kepada Bapa Angkasa
debu bara api doa sahaja
sudah melebur memeluk Ibu Bumi
Esok pasti fajar menyingsing
9.
Untuk jeritan derita lara rakyat
dan amukan amarah suara bangsa
Menuntut tegaknya hukum dan jaminan kesejahteraan hak rakyat
Bergelantung aneka tanya solusi
dari para pejabat publik Indonesia
Apakah banyak rakyat yang diam sunyi tidak menyadari haknya
Bisakah satu lilin bernyala ada maknanya
Mungkinkah 10 lilin dinyalakan
sanggup menghentikan ketamakan pejabat
Masihkah bisa dinyalakan 100 lilin zaman ini
di setiap komunitas rakyat
sehingga bangkit membela harkat martabatnya
Benarkah ada kekuatan dalam nyala 1000 lilin
untuk menerangi pikiran waras dan hati sanubari bermartabat
bagi segenap pejabat publik?
Asap hitam lara derita rakyat masih mengepul
Bara api kemarahan terus nyala bergelora
di seluruh pelosok tanah air
10.
Bangsa kita dianugerahkan kebijaksanaan leluhur
Hening, samadhi, ritual sakral adat budaya
Pancasila menjadi ideologi dan sumber hukum NKRI
Iman kepercayaan dan agama dimiliki segenap rakyat
Merah Putih panji sakti bernegara
Sumpah jabatan para pemimpin dan pejabat publik masih dilakukan
Mengapa justru bangsa kita didera problema
karena kerakusan pejabat publik
Mengapa hukum tak berwibawa dan korupsi membudaya
Apakah warisan cita Proklamasi sudah tak bermakna
Ataukah kita merdeka untuk dijajah sesama saudara bangsa sendiri
Benarkah kita kembali dijajah bangsa asing
dengan boneka dan kacungnya adalah saudara kita sendiri
Mungkin…
hanya ombak dan angin yang tahu jawabannya
Mungkin karena kita sudah melupakan Tuhan yang Maha Esa
bahkan menjadikan dagangan dan ejekan dengan sumpah palsu
“Keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”

