Sejatinya yang disabdakan Tuhan telah tergenapi dan yang disampaikan-Nya telah diterima oleh mereka yang percaya sebagai sabda yang hidup dan penuh kuasa.
Kita tidak hanya membaca atau merenungkannya. Yang kita lakukan saat membaca sabda-Nya adalah kita sedang mendengarkan Dia berbicara kepada kita. Itulah sebabnya dibutuhkan hati yang terbuka dan pikiran jernih.
Baru saja terjadi, seorang sahabat mengutip sabda-Nya sebagai ungkapan dari keyakinannya, tapi ada nitizen yang menanggapi dengan kata-kata yang tidak pas. Alasannya, karena berbeda keyakinan. Untuk hal semacam ini, kita harus jadi dewasa dalam iman untuk saling menghargai satu sama lainnya.
Ditekankan oleh Santo Paulus, bahwa kita harus jadi pelaku firman-Nya, tidak sebatas sebagai pendengar saja. Maksudnya, supaya sabda-Nya sebagai bahan berdoa untuk membantu kita hidup bijaksana dan benar. Sehingga sabda-Nya memberikan kuasa yang lebih besar untuk hidup kita. Amin.
Rm. Petrus Santoso SCJ

