Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Akibat pernyataan dan sikap sejumlah anggota DPR yang arogan dan tidak empatik pada masyarakat, amarah publik tak terbendung.
Jadi pelajaran bagi semua pejabat penyelenggara negara untuk berhati-hati dalam bersikap dan berkomentar.”
(Catatan Nurani Rakyat)
Sebuah Frase Idiomatik
“Mulutmu adalah harimaumu,” sebuah frase idiomatik yang bermakna, agar kita perlu “berhati-hati saat berbicara, karena jika ternyata salah, maka isi pembicaraanmu, justru akan menjerumuskan kamu sendiri.” Artinya ucapanmu itu akan berdampak negatif bagi sesama yang dapat melahirkan sebuah permasalahan.
Gelombang demonstrasi yang merebak di sejumlah daerah pada 25 Agustus, kemudian berlanjut 28-30 Agustus 2025, tidak bisa dilepaskan dari buruknya komunikasi publik para elite. Ucapan dan sikap sejumlah anggota DPR yang dianggap tak peka terhadap kondisi masyarakat memicu amarah publik. Namun, jika menengok ke belakang, problem serupa sejatinya bukan hal baru. Pernyataan yang tidak empatik bukan hanya datang dari parlemen, melainkan juga dari para menteri, dan kecenderungan itu berulang dari waktu ke waktu, demikian isi paragraf pertama, tulisan Nikolaus Harbowo dan Machradin Wahyudi Ritonga dalam kolom Politik & Hukum, Kompas, Minggu, (31/8/2025), berjudul, “Mulutmu Harimaumu.”
Ledakan Kemarahan Rakyat
Akibat ucapan dari sejumlah anggota DPR yang dianggap melecehkan harga diri rakyat, seperti penggunaan kata ‘tolol’ tak pelak melahirkan amukan kemarahan rakyat dari Sabang hingga Marauke. Selain itu, rakyat pun kembali dikejutkan dengan kenaikan tunjangan anggota DPR yang dinilai fantastis di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang kian tertekan. Demikian Nikolaus dan Machradin.
Seruan Maaf yang Dianggap tidak Bermakna
Setelah terjadi ledakan kemarahan rakyat lewat aksi demonstrasi yang merambat hampir ke seluruh kota besar dan kecil, maka berdatanganlah seruan permohonan maaf, yang bagi rakyat justru sangat tidak bermakna.
Tidak kurang datang dari Ketua DPR RI Puan Maharani, “Atas nama anggota DPR dan pimpinan DPR, sekali lagi saya meminta maaf, jika kami sebagai wakil rakyat belum bisa bekerja dengan baik secara sempurna.”
Ucapan serupa juga datang dari Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ahmad Doli Kurnia Tanjung, “Kami mohon maaf kalau selama ini ada pernyataan, sikap, atau tindak tanduk yang belum bisa diterima masyarakat secara luas,” ujarnya.
Paradoks
Menurut Guru Besar Ilmu Komunikasi Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto fenomena ucapan yang tidak empatik dari para elite politik itu mencerminkan ketidakmampuan mereka membaca situasi dan membangun empatik dalam berkomunikasi.
Senada dengan Gun Gun, dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga, Suko Widodo juga berpendapat serupa dengan Gun Gun.
Suko Widodo, bahkan berargumen, bahwa akar masalah yang lebih berkaitan dengan kultur politik patrimonial dan oligarki. Karena dalam tradisi ini, jabatan justru dipandang sebagai privilese, bukan amanah sehingga pejabat cenderung tampil sebagai penguasa, bukan pelayan publik.
Sebuah Tawaran Solutif
Suko, bahkan masih menawarkan “empat langkah” sebagai solusi perbaikan atas kondisi tidak nyaman ini. Antara lain:
- Membekali pejabat dengan keterampilan berkomunikasi untuk mendengar.
- Membangun budaya akuntabilitas, artinya pengunduran diri serta permintaan maaf tidak dipandang sebagai sebentuk kelemahan.
- Memberikan teladan komunikasi enpatik mulai dari pimpinan tertinggi hingga ke seluruh lapisan birokrasi.
- Memanfaatkan media digital sebagai sarana dialog dan transparansi.
Akar Permasalahnya
Namun, apa pun upaya berupa aneka solusi, akar permasalahan itu justru terdapat dan terletak di dalam karakter pribadi seorang pejabat publik. Bagaimana kualitas personalitas yang ideal sebagai seorang pejabat publik? Bagaimana kadar nilai kualitas beretika yang dimilikinya? Bagaimanakah tingkat kedalaman dan kedewasaan moralitasnya?
Ketahuilah, bahwa untuk mencapai taraf setinggi itu dibutuhkan proses pembentukkan pribadi, sehingga ia dapat meraih predikat sebagai pribadi yang matang dan dewasa.
Kini sadarlah kita, bahwa jadi seorang manusia sejati itu dibutuhkan proses penyadaran diri di sepanjang hidupnya.
Sapere Aude!
Kediri, 2 September 2025

