Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Bakat adalah pemberian Tuhan.
Bersikaplah rendah hati. Ketenaran adalah pemberian manusia.
Bersyukurlah. Kesombongan adalah pemberian diri sendiri.
Berhati-hatilah.”
(John Wooden)
Pemberian dan Perintah Tuhan
Tatkala manusia di Eden diciptakan, pria dan wanita, maka Tuhan pun menghembuskan roh serta nafas hidup ke atas ubun-ubun kepala mereka. Juga kepada mereka diperintahkan-Nya, agar menguasai dan memelihara semua ciptaan.
Apa itu Bakat atau Talenta?
Bakat alias talenta adalah suatu potensi atau kemampuan alami, yakni suatu bawaan lahir, berupa potensi unik yang dimiliki seseorang untuk melakukan sesuatu secara unggul.
Aneka Karya Agung sebagai Warisan
Dalam kehidupan riil ini, tidak jarang pula kita menjumpai orang-orang yang memang unggul dalam arena bidang kehidupan ini, justru karena mereka memiliki aneka bakat yang diekspresikan lewat keterampilan hidup.
Tentu, agar bakat-bakat khusus ini dapat berkembang, maka dibutuhkan sikap ketekunan serta kesetiaan untuk mengembangkannya.
Bukankah, kita juga mengenal keunggulan bakat seseorang, justru lewat warisan, sebagai peninggalan mereka berupa: bangunan berarsitektur megah agung, musik nan indah brilian selevel dunia, ukiran serta lukisan dari berbagai genre, gaya, serta aliran, karya sastra tulis tingkat mondial sebagai warisan para pujangga dunia, para musikus dunia, aneka jenis tarian, aneka motif kain tenunan, serta karya sastra para sastrawan brilian.
Bukankah di balik aneka karya monumental dan menggetarkan dada batin manusia, justru sebagai ekspresi jiwa mereka? Itulah keunggulan dan keunikan dari bakat yang dikaruniai Tuhan kepada manusia.
Bakat dan Pengembangannya
“Bakat akan hilang, jika tidak dikembangkan. Juga ketenaran itu tidak akan bertahan, jika tidak dihargai.” Ya, sungguh benar statemen ini. Artinya, bakat-bakat itu perlu dikembangkan, sebagai perwujudan dari sikap pertanggungjawaban manusia kepada Sang Pemberinya.
Lewat konteks ini, saya teringat kisah bermakna di dalam Alkitab, tentang ketiga orang karyawan alias hamba, yang masing-masing diberikan sejumlah talenta oleh Tuannya sebelum ia bepergian.
Kepada karyawan (hamba), yang pertama, diberikan lima buah talenta. Karyawan kedua, diberinya dua buah talenta, dan satu talenta, kepada karyawan ketiga, sambil berpesan, “Kembangkanlah talenta-talenta ini, dan sekembalinya aku dari bepergian, maka kita pun akan mengadakan perhitungan.”
Antara Kata-kata Berkat dan Kutukan
“Karena engkau tidak setia mengembangkannya, maka talenta yang ada padamu itu akan diberikan kepada karyawan yang rajin.” Karyawan yang malas ini akan dilemparkan ke dalam dapur api. Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi.
Kepada kedua orang karyawan (hamba) yang setia, karena rajin mengembangkannya, dikatakan, “Karena engkau setia dalam perkara kecil, maka perkara besar akan diberikan kepadamu. Masuklah ke dalam kebahagian Tuanmu.”
Ternyata betapa kerasnya kata-kata kutukan dan siksaan yang diberikan kepada karyawan (hamba) yang lalai serta malas untuk mengembangkan talenta.
Pujian serta Kutukan Kekal
Ketahuilah, bukankah secara rohani, dan moral spiritual, kutukan dan berkat ini masih berlangsung secara turun-tenurun hingga saat ini?
Ternyata betapa luhurnya janji kesetiaan Tuhan kepada kita manusia.
Mari kita memuliakan Tuhan, Sang Pemberi aneka bakat hidup kepada kita!
Kediri, 1 September 2025

