Red-Joss.com – Pagi ini saya diajak belajar dari penjual air mineral. Ketika saya mampir ke toko langganan di luar komplek perumahan.
“Pak, kenapa galon air mineral ini selalu Bapak bersihkan, kan airnya tidak kotor?” tanya anak kecil itu lugu.
“Orang senang melihat hal yang bersih, Le. Tole tentu juga senang memakai baju bersih, ketimbang yang degil dan bau kan…,” jelas Bapaknya sambil tersenyum.
Anak itu melengeh, lalu menoleh ke arah saya.
“Pagi, Oom…,” sapa anak itu ramah.
“Pagi juga. Bantu Bapak ya? Kau senang membaca? Mau mewarnai gambar? Ini untukmu,” kata saya sambil memberikan buku mewarnai pada anak itu.
“Ma kasih, Oom,” celotehnya, lalu pamit, dan masuk ke dalam rumah.
Bapak itu menggelengkan kepala melihat polah anaknya. Ia mohon maaf pada saya, karena anaknya telah merepoti.
“Sekalian lewat, lalu mampir.” Saya tersenyum. Saya memesan 4 galon dan 2 dos air mineral untuk dikirim ke rumah.
Bagi saya, pemandangan di warung itu tampak sederhana, tapi indah dan sarat makna.
Bagaimana tidak. Tata krama yang dibangun sejak dini dalam keluarga itu sungguh pemandangan yang luar biasa, khususnya di kota besar, dan di era zaman digital ini.
Anak kecil yang sopan dan cerdas ingin tahu. Penjelasan Bapaknya yang sederhana, lugas, tapi jelas dan mudah dipahami.
Bapak itu juga ingin menjelaskan pada anaknya, barang apa pun yang dijual, jika dagangannya ditata rapi, dan tempatnya bersih akan membuat pembeli merasa nyaman dan senang.
Sungguh, saya jadi malu sendiri, jika ingat lingkungan sekitar, tempat kerja, dan tata krama yang tergerus zaman.
Saya jadi teringat pula, ketika para pejabat hendak tugas kunjungan ke daerah. Banyak orang daerah sibuk untuk menghias, merapikan, dan beberes kebersihan sepanjang jalan yang hendak dilalui. Kamuflase dan pemanis buatan sekadar abs, asal bos senang. Seusai acara ceremonial itu lalu kembali ke kebiasaan aslinya, dan penuh basa basi.
Begitu pula dengan kesombongan spriritual, “Yang penting hati kita”, biasa digunakan sebagai alasan oleh banyak orang yang malas untuk beribadah atau sembayang. Padahal Allah melihat hati.
Pagi ini saya belajar dari penjual air mineral itu, bahwa untuk menjaga hati kita diajak mensikronkan pikiran, ucapan, dan perilaku.
Seia-sekata itu harmoni.
…
Mas Redjo

